Jakarta, [Tanggal Sekarang] – Pasar emas global tengah menghadapi dinamika yang kompleks, ditandai dengan melemahnya harga spot pada perdagangan Selasa (17/2/2026). Koreksi tipis ini terjadi di tengah suasana libur Tahun Baru Imlek yang membatasi aktivitas perdagangan di Asia, serta penutupan pasar Amerika Serikat untuk memperingati Hari Presiden. Kondisi ini menciptakan sentimen pasar yang campur aduk, di mana harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter oleh The Federal Reserve (The Fed) beradu dengan kekhawatiran akan tekanan inflasi yang persisten.

Harga Emas Dunia Terkoreksi Tipis

Menurut data yang dihimpun dari Yahoo Finance, harga emas di pasar spot mengalami penurunan sebesar 0,9% menjadi USD 4.996,55 per ounce pada pukul 12:18 siang waktu London. Penurunan juga terjadi pada harga perak, yang terkoreksi 0,9% menjadi USD 76,73 per ounce. Sementara itu, harga platinum juga mengalami penurunan, meskipun paladium mencatatkan sedikit kenaikan.

Koreksi ini terjadi setelah reli harga emas pada Jumat pekan lalu, di mana harga emas batangan melonjak 2,4%. Kenaikan tersebut dipicu oleh data indeks harga konsumen (IHK) AS untuk bulan Januari yang menunjukkan kenaikan moderat. Data ini meredakan kekhawatiran pasar akan lonjakan inflasi yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan segera mempertimbangkan untuk memangkas suku bunga.

Dilema The Fed: Antara Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Harapan akan pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed menjadi faktor kunci yang menopang harga emas. Emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), cenderung diuntungkan ketika suku bunga rendah. Suku bunga yang rendah akan menurunkan biaya peluang untuk memegang emas dibandingkan dengan aset-aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi.

Namun, The Fed juga dihadapkan pada dilema yang kompleks. Di satu sisi, data inflasi yang masih berada di atas target 2% mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Di sisi lain, suku bunga yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan risiko resesi.

"Pasar saat ini berada dalam fase penyeimbangan kembali antara sentimen bullish dan bearish, tanpa katalis yang jelas untuk menembus kisaran tersebut," ujar Strategist Pepperstone Group Ltd, Dilin Wu.

Wu menambahkan bahwa level harga USD 5.100 menjadi resistensi yang kuat bagi harga emas. Upaya untuk mendorong harga lebih tinggi selalu menemui kegagalan karena aksi ambil untung (profit taking) di level tersebut menghasilkan tekanan jual yang signifikan.

Likuiditas Pasar Terbatas Akibat Libur Imlek

Libur Tahun Baru Imlek di China juga turut memengaruhi dinamika pasar emas. Dengan pasar di China tutup sepanjang minggu ini, likuiditas pasar menjadi lebih tipis dari biasanya, terutama selama jam perdagangan Asia. China merupakan salah satu konsumen emas terbesar di dunia, sehingga absennya partisipasi pedagang China dapat mengurangi volume perdagangan dan meningkatkan volatilitas harga.

Permintaan ritel untuk logam mulia di China sangat tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini mendorong otoritas di pusat ritel Shenzhen untuk mengeluarkan peringatan keras terhadap "aktivitas perdagangan emas ilegal," mulai dari aplikasi yang menawarkan leverage kepada investor ritel hingga siaran langsung online yang mempromosikan penjualan emas batangan. Peringatan ini menunjukkan betapa tingginya minat masyarakat China terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven asset) di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dampak ke Pasar Domestik: Harga Emas Perhiasan Stabil?

Dengan dinamika pasar emas global yang kompleks, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana dampaknya terhadap harga emas perhiasan di pasar domestik. Meskipun harga emas dunia mengalami koreksi tipis, faktor-faktor lain seperti nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan permintaan lokal juga dapat memengaruhi harga emas perhiasan di Indonesia.

Pada hari Selasa (17/2/2026), data menunjukkan bahwa harga emas perhiasan di Raja Emas dan Laku Emas terpantau stabil. Namun, para analis memperkirakan bahwa harga emas perhiasan di pasar domestik akan tetap rentan terhadap fluktuasi harga emas dunia, terutama jika The Fed memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan moneternya.

Prospek Harga Emas: Ketidakpastian Masih Tinggi

Prospek harga emas dalam jangka pendek masih dibayangi oleh ketidakpastian yang tinggi. Di satu sisi, harapan akan pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed dapat menjadi katalis positif bagi harga emas. Di sisi lain, data inflasi yang kuat dan potensi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed dapat menekan harga emas.

Selain itu, faktor-faktor geopolitik seperti ketegangan antara Rusia dan Ukraina, serta potensi konflik di wilayah lain juga dapat memengaruhi harga emas. Emas sering dianggap sebagai aset safe haven yang dicari oleh investor ketika ketidakpastian global meningkat.

Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan melakukan riset yang cermat sebelum membuat keputusan investasi di pasar emas. Diversifikasi portofolio dan manajemen risiko yang baik juga merupakan kunci untuk melindungi nilai investasi di tengah volatilitas pasar yang tinggi.

Kesimpulan

Pasar emas global saat ini berada dalam fase penyeimbangan kembali antara sentimen bullish dan bearish. Libur Tahun Baru Imlek dan penutupan pasar AS menambah kompleksitas dinamika pasar. Investor perlu mencermati perkembangan data ekonomi global, kebijakan The Fed, dan faktor-faktor geopolitik untuk mengambil keputusan investasi yang tepat. Sementara itu, harga emas perhiasan di pasar domestik diperkirakan akan tetap rentan terhadap fluktuasi harga emas dunia, namun juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lokal seperti nilai tukar Rupiah dan permintaan domestik.

Bagikan:

Cahyono

Fokus pada topik sosial, ekonomi, dan layanan masyarakat dengan gaya penulisan yang to the point.