Jakarta, Indonesia – Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan pada hari Rabu, 18 Februari 2026, dengan kenaikan melebihi 4 persen. Kenaikan tajam ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang berpusat pada pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran, serta pernyataan keras dari Wakil Presiden AS JD Vance mengenai kemungkinan tindakan militer terhadap Iran.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI), patokan utama untuk pasar Amerika Utara, melonjak USD 2,86, atau sekitar 4,59 persen, mencapai USD 65,19 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent, yang menjadi acuan global, naik USD 2,93, atau sekitar 4,35 persen, menjadi USD 70,35 per barel.
Kekhawatiran pasar berakar pada laporan terbaru mengenai perundingan nuklir antara AS dan Iran yang berlangsung di Jenewa pada hari Selasa. Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner memimpin delegasi Amerika dalam pembicaraan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menggambarkan diskusi tersebut sebagai "konstruktif" dalam pernyataan yang dikutip oleh media Iran. Araghchi menambahkan bahwa pembicaraan tersebut telah menghasilkan kesepakatan umum mengenai prinsip-prinsip panduan untuk negosiasi lebih lanjut.
Awalnya, komentar Araghchi disambut dengan optimisme oleh para pelaku pasar, yang menafsirkan pernyataan tersebut sebagai indikasi bahwa AS dan Iran mungkin masih dapat mencapai kesepakatan yang akan meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan mengurangi risiko gangguan pasokan minyak. Akibatnya, harga minyak sempat ditutup lebih rendah pada hari Selasa.
Namun, sentimen pasar berubah drastis setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengeluarkan pernyataan yang lebih tegas dan menimbulkan kekhawatiran baru. Vance mengklaim bahwa Iran belum menanggapi tuntutan inti yang diajukan oleh AS dalam pembicaraan nuklir tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Selasa malam, Vance menyatakan bahwa meskipun ada beberapa kemajuan dalam pembicaraan, Iran belum bersedia mengakui dan mengatasi "garis merah" yang telah ditetapkan oleh Presiden Donald Trump.
"Dalam beberapa hal berjalan dengan baik, mereka setuju untuk bertemu setelahnya," kata Vance. "Tetapi dalam hal lain, sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan beberapa garis merah yang belum bersedia diakui dan diatasi oleh Iran."
Yang lebih mengkhawatirkan adalah pernyataan Vance bahwa Presiden Trump berhak menggunakan kekuatan militer jika upaya diplomasi gagal menghentikan program nuklir Iran. "Kita memiliki militer yang sangat kuat, presiden telah menunjukkan kesediaan untuk menggunakannya," ujar Vance.
Pernyataan Vance ini memicu kekhawatiran di pasar minyak bahwa AS mungkin sedang mempertimbangkan tindakan militer terhadap Iran, yang dapat mengganggu pasokan minyak global dan mendorong harga lebih tinggi. Timur Tengah merupakan wilayah penghasil minyak utama, dan konflik di kawasan tersebut dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap pasar energi global.
Selain itu, laporan yang diterbitkan oleh Axios, mengutip sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya, menambahkan bahan bakar ke api. Laporan tersebut mengklaim bahwa kampanye militer AS terhadap Iran kemungkinan akan besar-besaran, berlangsung selama beberapa minggu, dan lebih mirip perang skala penuh daripada operasi terbatas. Laporan tersebut juga membandingkan potensi operasi militer terhadap Iran dengan upaya yang gagal untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari lalu, yang menunjukkan bahwa AS mungkin sedang mempertimbangkan tindakan yang jauh lebih agresif daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Kombinasi dari pernyataan Vance dan laporan Axios telah menciptakan suasana ketidakpastian dan kecemasan di pasar minyak. Para pedagang dan investor khawatir bahwa eskalasi ketegangan antara AS dan Iran dapat memicu konflik militer yang akan mengganggu pasokan minyak global dan mendorong harga ke tingkat yang tidak berkelanjutan.
Para analis pasar mencatat bahwa harga minyak sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, terutama yang melibatkan Timur Tengah. Setiap tanda potensi gangguan pasokan dapat memicu lonjakan harga, karena para pedagang bergegas untuk mengamankan pasokan dan melindungi diri dari potensi kerugian.
Kenaikan harga minyak pada hari Rabu juga didorong oleh faktor-faktor lain, termasuk penurunan produksi minyak di beberapa negara produsen utama dan meningkatnya permintaan global untuk energi. Namun, sentimen utama yang mendorong pasar adalah kekhawatiran tentang potensi konflik AS-Iran.
Para ahli memperingatkan bahwa ketegangan antara AS dan Iran kemungkinan akan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang, dan pasar minyak akan terus bergejolak sebagai respons terhadap setiap perkembangan baru. Jika AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir, atau jika terjadi eskalasi militer, harga minyak dapat melonjak lebih tinggi lagi.
Dampak dari harga minyak yang lebih tinggi dapat dirasakan di seluruh dunia, mulai dari konsumen yang membayar lebih banyak untuk bensin hingga bisnis yang menghadapi biaya energi yang lebih tinggi. Kenaikan harga minyak juga dapat berkontribusi pada inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Pemerintah di seluruh dunia memantau dengan cermat situasi di Timur Tengah dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak dari potensi gangguan pasokan minyak. Beberapa negara telah melepaskan cadangan minyak strategis mereka untuk meningkatkan pasokan dan menstabilkan harga. Yang lain bekerja sama dengan negara-negara produsen minyak untuk meningkatkan produksi dan memastikan pasokan yang stabil.
Namun, pada akhirnya, solusi untuk masalah ini terletak pada deeskalasi ketegangan antara AS dan Iran dan mencapai kesepakatan nuklir yang akan memenuhi kekhawatiran semua pihak. Sampai itu terjadi, pasar minyak akan tetap bergejolak dan rentan terhadap guncangan geopolitik.
Sebagai kesimpulan, lonjakan harga minyak dunia pada 18 Februari 2026 mencerminkan meningkatnya kekhawatiran tentang potensi konflik antara AS dan Iran. Pernyataan keras dari Wakil Presiden AS JD Vance mengenai kemungkinan tindakan militer terhadap Iran telah memicu kekhawatiran di pasar minyak dan mendorong harga lebih tinggi. Ketegangan antara AS dan Iran kemungkinan akan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang, dan pasar minyak akan terus bergejolak sebagai respons terhadap setiap perkembangan baru. Dampak dari harga minyak yang lebih tinggi dapat dirasakan di seluruh dunia, dan pemerintah di seluruh dunia mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak dari potensi gangguan pasokan minyak.





