Perlambatan pertumbuhan kredit di Indonesia menjadi perhatian utama dalam beberapa waktu terakhir, memicu diskusi tentang faktor-faktor yang mendasarinya dan strategi untuk memacu kembali pertumbuhan yang berkelanjutan. Hery, seorang analis ekonomi terkemuka, menyoroti bahwa penurunan ini tidak terlepas dari kinerja tiga sektor utama yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, yaitu manufaktur, perdagangan, dan pertanian. Ketiga sektor ini bukan hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, tetapi juga berperan sebagai penyerap tenaga kerja dalam skala besar. Akibatnya, setiap perlambatan di sektor-sektor ini secara langsung berdampak pada aktivitas bisnis dan kebutuhan pembiayaan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Peran Krusial Sektor Manufaktur, Perdagangan, dan Pertanian
Sektor manufaktur, dengan kontribusinya yang mendekati 20% terhadap PDB, memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan kebutuhan modal kerja dan investasi. Industri manufaktur membutuhkan investasi besar dalam peralatan, teknologi, dan sumber daya manusia untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing. Ketika sektor ini mengalami perlambatan, investasi baru cenderung tertunda, yang pada gilirannya mengurangi permintaan kredit.
Sektor perdagangan, di sisi lain, sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Ketika konsumsi melemah, perputaran stok barang melambat, dan permintaan kredit pun ikut tertahan. Konsumen yang berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka akan mengurangi permintaan barang dan jasa, yang berdampak negatif pada pendapatan perusahaan perdagangan dan kemampuan mereka untuk membayar pinjaman.
Sementara itu, sektor pertanian, sebagai basis penyerapan tenaga kerja terbesar di Indonesia, memiliki keterkaitan langsung dengan segmen mikro dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tekanan di sektor pertanian, seperti penurunan harga komoditas, gagal panen, atau masalah distribusi, dengan cepat tercermin pada permintaan kredit di level usaha kecil. Petani dan pelaku UMKM di sektor pertanian seringkali membutuhkan pinjaman untuk modal kerja, pembelian bibit, pupuk, dan peralatan pertanian. Ketika pendapatan mereka tertekan, kemampuan mereka untuk membayar pinjaman juga menurun.
Sensitivitas Pertumbuhan Kredit Terhadap Siklus Ekonomi
Kondisi ini menunjukkan bahwa sensitivitas pertumbuhan kredit terhadap siklus ekonomi di Indonesia masih cukup tinggi. Struktur kredit nasional didominasi oleh sektor-sektor padat karya seperti manufaktur, perdagangan, dan pertanian. Ketika sektor-sektor ini mengalami guncangan, dampaknya langsung terasa pada pertumbuhan kredit.
Hery menekankan bahwa moderasi kredit saat ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor likuiditas. Meskipun pemerintah telah menyuntikkan dana sebesar Rp200 triliun sebagai likuiditas tambahan, kondisi ini sangat dipengaruhi oleh struktur sektoral ekonomi Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa solusi untuk mengatasi perlambatan kredit tidak hanya terletak pada peningkatan likuiditas, tetapi juga pada diversifikasi dan peningkatan pembiayaan di sektor-sektor bernilai tambah tinggi.
Diversifikasi dan Pembiayaan Sektor Bernilai Tambah Tinggi
Diversifikasi ekonomi menjadi kunci untuk mengurangi sensitivitas pertumbuhan kredit terhadap siklus ekonomi. Pemerintah dan lembaga keuangan perlu mendorong pengembangan sektor-sektor baru yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi dan tidak terlalu bergantung pada faktor-faktor eksternal. Sektor-sektor seperti teknologi informasi, energi terbarukan, pariwisata, dan ekonomi kreatif dapat menjadi sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan.
Peningkatan pembiayaan di sektor-sektor bernilai tambah tinggi juga sangat penting. Sektor-sektor ini membutuhkan investasi dalam teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia yang berkualitas. Lembaga keuangan perlu mengembangkan produk dan layanan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan sektor-sektor ini, seperti pinjaman dengan jangka waktu yang lebih panjang, suku bunga yang kompetitif, dan persyaratan agunan yang fleksibel.
Kebijakan Fiskal dan Moneter yang Kredibel dan Pro-Growth
Hery menilai bahwa kebijakan fiskal dan moneter saat ini berada pada arah yang kredibel dan pro-growth. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro, mengendalikan inflasi, dan mendorong investasi. Bank Indonesia juga telah menurunkan suku bunga acuan untuk meningkatkan likuiditas dan mendorong pertumbuhan kredit.
Namun demikian, optimisme terhadap prospek ekonomi belum sepenuhnya tercermin dalam percepatan ekspansi riil di tingkat perusahaan. Sejumlah pelaku usaha masih bersikap hati-hati dan belum memiliki keyakinan yang cukup kuat untuk mempercepat investasi maupun ekspansi. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidakpastian global, seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta perlambatan ekonomi global.
Fokus pada Akselerasi Implementasi
Hery menekankan bahwa fokus perlu bergeser dari narasi optimisme menuju akselerasi implementasi yang benar-benar dirasakan oleh dunia usaha. Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Hal ini membutuhkan koordinasi yang baik antara berbagai instansi pemerintah, serta partisipasi aktif dari sektor swasta.
Pemerintah juga perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif, dengan mengurangi birokrasi, meningkatkan kepastian hukum, dan menyediakan insentif yang menarik bagi investor. Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan kualitas infrastruktur, seperti jalan, jembatan, pelabuhan, dan bandara, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Peran Aktif Perbankan dalam Mendukung Program Strategis Nasional
Sejalan dengan hal tersebut, perbankan, khususnya Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) termasuk BRI, akan tetap berperan aktif dalam mendukung berbagai program strategis nasional yang terarah pada aktivitas produktif. Program-program seperti Makan Bergizi Gratis, Program 3 Juta Rumah, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dinilai mampu mendorong pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga, sekaligus menciptakan multiplier effect terhadap penciptaan lapangan kerja dan penguatan daya beli masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, dapat meningkatkan permintaan akan produk-produk pertanian dan makanan, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani dan pelaku UMKM di sektor pertanian. Program 3 Juta Rumah dapat mendorong pertumbuhan sektor konstruksi dan properti, yang akan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan permintaan akan bahan bangunan. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dapat meningkatkan akses keuangan bagi masyarakat pedesaan dan UMKM, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah terpencil.
Pembiayaan Ekosistem Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkelanjutan
Hery menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa dengan dukungan policy mix yang akomodatif, moneter dan fiskal berjalan selaras, ruang ekspansi ekonomi terbuka lebih luas. Di sinilah perbankan berperan bukan sekadar menyalurkan kredit, melainkan membiayai ekosistem pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan. Perbankan perlu menjadi mitra strategis bagi pemerintah dan sektor swasta dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Perbankan perlu mengembangkan produk dan layanan pembiayaan yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan berbagai sektor ekonomi. Perbankan juga perlu meningkatkan literasi keuangan masyarakat, sehingga mereka dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih baik dan memanfaatkan produk dan layanan keuangan yang tersedia. Dengan demikian, perbankan dapat berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.





