Jakarta – PT Pertamina (Persero) mengambil langkah strategis dalam mengamankan pasokan energi nasional dan menjembatani kesenjangan kebutuhan energi domestik melalui kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengumumkan bahwa perusahaan energi pelat merah ini menjadi bagian integral dari perjanjian dagang antara Indonesia dan AS, dengan nilai impor energi mencapai USD 15 miliar atau setara dengan Rp 253,39 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.890 per dolar AS).
Langkah ini, menurut Mantiri, merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pertamina untuk mencapai kemandirian energi nasional, terutama mengingat tantangan penurunan produksi minyak dan gas (migas) alamiah di dalam negeri. "Dapat kami sampaikan bahwa skema impor ini adalah jembatan kita menuju kemandirian energi," tegas Mantiri dalam konferensi pers terkait Implementasi Teknis Perjanjian Perdagangan Timbal Balik RI-AS, yang diselenggarakan pada Jumat (20/2/2026).
Mantiri menjelaskan bahwa impor energi masih diperlukan untuk mengatasi kesenjangan pasokan yang ada di dalam negeri. Meskipun demikian, Pertamina terus berupaya meningkatkan produksi dan lifting migas nasional melalui berbagai terobosan dan inisiatif, bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S).
Kemitraan Strategis dengan Raksasa Energi AS: Lebih dari Sekadar Impor
Sebagai bagian dari penjajakan kerja sama yang lebih luas, Pertamina telah menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa perusahaan energi terkemuka dari Amerika Serikat. Mitra-mitra strategis ini mencakup nama-nama besar seperti Exxon Mobil, Chevron, KDT Global Resources, Hartree, dan Halliburton. Kemitraan ini tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi migas semata, tetapi juga mencakup transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan penerapan praktik terbaik global di industri migas.
Kerja sama dengan Exxon Mobil, misalnya, diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi eksplorasi dan produksi migas yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Sementara itu, kemitraan dengan Chevron dapat membantu Pertamina dalam meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi biaya produksi. Kolaborasi dengan KDT Global Resources, Hartree, dan Halliburton diharapkan dapat memperkuat rantai pasok energi Pertamina dan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko operasional.
Transparansi dan Prosedur yang Ketat dalam Impor Energi
Simon Mantiri menegaskan bahwa mekanisme impor energi dari Amerika Serikat akan dilakukan secara transparan dan sesuai dengan prosedur yang berlaku. "Ada beberapa catatan penting yang perlu saya sampaikan di sini bahwa rencana impor energi dari Amerika Serikat ini adalah ‘business as usual’, jadi sudah seperti yang kami jalankan selama ini," tegasnya.
Pertamina berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap proses impor energi dilakukan secara akuntabel dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perusahaan juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait untuk memastikan bahwa impor energi dilakukan secara efisien dan efektif.
Membangun Kemandirian Energi Nasional: Tantangan dan Peluang
Langkah impor energi dari Amerika Serikat ini merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk mencapai kemandirian energi nasional. Meskipun impor masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, Pertamina terus berupaya untuk meningkatkan produksi migas nasional melalui berbagai cara, termasuk eksplorasi dan pengembangan lapangan baru, peningkatan produksi dari lapangan yang sudah ada, dan penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).
Selain itu, Pertamina juga berinvestasi dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), seperti panas bumi, tenaga surya, dan tenaga angin. Diversifikasi sumber energi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor energi dan meningkatkan ketahanan energi nasional.
Dampak Ekonomi dan Sosial dari Kemitraan dengan AS
Kemitraan strategis antara Pertamina dan perusahaan energi AS diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dan masyarakat Indonesia. Selain meningkatkan pasokan energi nasional, kerja sama ini juga dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan negara, dan mempercepat transfer teknologi.
Investasi dari perusahaan AS juga dapat membantu meningkatkan infrastruktur energi di Indonesia, seperti jaringan pipa gas dan fasilitas penyimpanan energi. Peningkatan infrastruktur ini akan meningkatkan efisiensi dan keandalan pasokan energi nasional.
Masa Depan Energi Indonesia: Berkelanjutan dan Berdaya Saing
Langkah strategis Pertamina dalam menjalin kemitraan dengan perusahaan energi AS merupakan bagian dari upaya untuk membangun masa depan energi Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing. Dengan meningkatkan pasokan energi, meningkatkan efisiensi operasional, dan berinvestasi dalam energi baru dan terbarukan, Pertamina berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat Indonesia dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Kemitraan dengan AS ini juga diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting di pasar energi global. Dengan memanfaatkan teknologi dan keahlian dari perusahaan AS, Pertamina dapat meningkatkan daya saingnya dan berkontribusi pada pengembangan industri energi di kawasan Asia Tenggara.
Secara keseluruhan, kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS yang melibatkan Pertamina ini merupakan langkah penting dalam mengamankan pasokan energi nasional, menjembatani kesenjangan kebutuhan energi domestik, dan membangun masa depan energi Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing. Melalui kemitraan strategis dengan perusahaan energi AS, Pertamina berharap dapat mencapai kemandirian energi nasional dan memberikan manfaat bagi perekonomian dan masyarakat Indonesia.





