Kondisi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS belakangan ini menjadi perhatian serius, dengan fluktuasi yang dipengaruhi kuat oleh sentimen global. Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, menyoroti bahwa sentimen yang dipicu oleh lembaga pemeringkat seperti MSCI dan Moody’s memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan Rupiah. Ia menekankan pentingnya fokus pemerintah untuk mencegah Rupiah mengalami undervalue, atau nilai tukar yang lebih rendah dari seharusnya berdasarkan fundamental ekonomi.
Pardede mengakui bahwa tekanan terhadap Rupiah akibat sentimen global ini mungkin tidak bersifat permanen. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai cukup solid, didukung oleh cadangan devisa yang memadai dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.
"Kalau kita bicara Rupiah undervalue, sebenarnya ini kembali lagi pada fundamental ekonomi. Prospek pertumbuhan ekonomi yang baik menunjukkan bahwa kondisi Rupiah saat ini lebih banyak didorong oleh faktor sentimen," ujar Pardede dalam konferensi pers daring, Jumat, 20 Februari 2026. "Potensi penguatan Rupiah masih terbuka lebar," tambahnya, mengindikasikan keyakinannya akan kemampuan Rupiah untuk kembali ke level yang lebih sesuai dengan fundamental ekonomi.
Pardede juga mengingatkan pentingnya melihat dampak fluktuasi Rupiah dari dua sisi yang berbeda, yaitu dari sudut pandang eksportir dan importir. Bagi sektor eksportir, penguatan Dolar AS terhadap Rupiah dapat memberikan keuntungan. Eksportir akan menerima lebih banyak Rupiah untuk setiap Dolar AS yang mereka hasilkan dari penjualan barang dan jasa ke luar negeri. Hal ini dapat meningkatkan arus kas perusahaan eksportir dan memperkuat kemampuan mereka untuk memenuhi kewajiban finansial.
"Kondisi ini dianggap positif bagi eksportir karena penguatan Dolar menambah pundi-pundi mereka. Arus kas akan meningkat, dan kemampuan membayar korporasi juga lebih kuat," jelas Pardede.
Namun, di sisi lain, sektor importir menghadapi tantangan yang lebih besar. Penguatan Dolar AS menyebabkan harga barang-barang impor menjadi lebih mahal. Biaya bahan baku yang diimpor, khususnya, dapat meningkat secara signifikan. Hal ini menjadi perhatian khusus mengingat industri manufaktur Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
"Pada sektor impor, harga-harga barang impor akan cenderung meningkat. Bahkan, biaya bahan baku impor juga akan meningkat," kata Pardede.
Ketergantungan industri manufaktur pada bahan baku impor merupakan isu krusial yang perlu mendapat perhatian serius. Jika kondisi Rupiah undervalue terus berlanjut, biaya produksi dapat meningkat secara signifikan, yang pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga barang-barang konsumsi. Hal ini berpotensi menurunkan daya beli masyarakat dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Pardede mencontohkan beberapa sektor yang rentan terhadap dampak penguatan Dolar AS, seperti produk elektronik, farmasi, obat-obatan, dan jasa-jasa yang memiliki input impor yang signifikan. Kenaikan harga barang-barang di sektor-sektor ini dapat secara langsung mempengaruhi daya beli masyarakat, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.
"Khususnya adalah kalau kita lihat beberapa harga komoditas, misalkan produk elektronik, farmasi obat-obatan, lalu juga jasa-jasa yang memang ada input impornya. Sehingga ini pada akhirnya akan bisa mempengaruhi kepada daya beli masyarakat," jelasnya.
Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi
Menghadapi tekanan terhadap Rupiah dan potensi dampaknya terhadap ekonomi, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu mengambil langkah-langkah strategis. Beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Penguatan Fundamental Ekonomi: Pemerintah perlu terus berupaya memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong investasi, meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki iklim usaha. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, Rupiah akan lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
- Stabilisasi Nilai Tukar: Bank Indonesia perlu terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Intervensi ini dapat dilakukan dengan membeli Rupiah dan menjual Dolar AS, atau sebaliknya, tergantung pada kondisi pasar. BI juga dapat menggunakan instrumen kebijakan moneter lainnya, seperti suku bunga, untuk mempengaruhi nilai tukar Rupiah.
- Diversifikasi Ekspor: Pemerintah perlu mendorong diversifikasi ekspor, yaitu meningkatkan variasi produk dan pasar ekspor. Dengan diversifikasi ekspor, Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu atau dua komoditas atau negara tujuan ekspor. Hal ini akan membuat ekonomi Indonesia lebih tahan terhadap guncangan eksternal.
- Pengembangan Industri Substitusi Impor: Pemerintah perlu mendorong pengembangan industri substitusi impor, yaitu industri yang memproduksi barang-barang yang sebelumnya diimpor. Dengan mengembangkan industri substitusi impor, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan kemandirian ekonomi.
- Pengendalian Inflasi: Pemerintah dan BI perlu terus berupaya mengendalikan inflasi. Inflasi yang tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat dan memperburuk daya saing ekspor. Pengendalian inflasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menjaga stabilitas harga pangan, mengelola ekspektasi inflasi, dan mengendalikan impor.
- Komunikasi Efektif: Pemerintah dan BI perlu membangun komunikasi yang efektif dengan pasar dan masyarakat. Komunikasi yang jelas dan transparan dapat membantu meredakan kekhawatiran dan menjaga kepercayaan investor.
- Insentif untuk Eksportir: Pemerintah dapat memberikan insentif kepada eksportir untuk meningkatkan kinerja ekspor. Insentif ini dapat berupa keringanan pajak, fasilitas kredit, atau bantuan pemasaran.
- Efisiensi Logistik: Pemerintah perlu meningkatkan efisiensi logistik untuk mengurangi biaya transportasi dan mempercepat arus barang. Efisiensi logistik dapat dilakukan dengan memperbaiki infrastruktur, menyederhanakan prosedur kepabeanan, dan meningkatkan koordinasi antar instansi terkait.
Kesimpulan
Tekanan terhadap Rupiah akibat sentimen global merupakan tantangan yang perlu dihadapi dengan serius. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan meminimalkan dampaknya terhadap ekonomi. Penguatan fundamental ekonomi, stabilisasi nilai tukar, diversifikasi ekspor, pengembangan industri substitusi impor, dan pengendalian inflasi merupakan beberapa langkah penting yang perlu dilakukan. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, BI, dan pelaku usaha, Indonesia dapat mengatasi tantangan ini dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.





