Jakarta, Indonesia – Mitra dagang Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia menghadapi babak baru ketidakpastian pada hari Sabtu, 21 Februari 2026, setelah mantan Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya untuk memberlakukan tarif baru pada impor. Pengumuman ini muncul hanya beberapa jam setelah Mahkamah Agung AS membatalkan beberapa tarif yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump.

Putusan Mahkamah Agung tersebut menjadi pukulan bagi kebijakan perdagangan era Trump, yang telah memberlakukan tarif pada sejumlah besar barang impor dari negara-negara pengekspor utama di Asia. Negara-negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan, yang merupakan produsen chip terbesar di dunia dan pemain kunci dalam rantai pasokan teknologi global, akan merasakan dampak langsung dari pembatalan tarif tersebut.

Namun, kegembiraan atas putusan tersebut berumur pendek. Beberapa jam setelah putusan Mahkamah Agung diumumkan, Trump mengumumkan bahwa ia akan memberlakukan bea masuk baru sebesar 10% pada semua impor AS dari semua negara, efektif mulai hari Selasa untuk jangka waktu awal 150 hari. Trump mengklaim bahwa tindakan ini diperlukan untuk melindungi industri AS dan mengurangi defisit perdagangan negara tersebut, menggunakan dasar hukum yang berbeda dari yang sebelumnya digugat di Mahkamah Agung.

Pengumuman mendadak ini langsung memicu kekhawatiran dan kebingungan di kalangan pelaku bisnis dan investor di seluruh Asia. Para analis memperingatkan bahwa tindakan ini dapat memicu perang dagang baru dan menciptakan ketidakpastian yang lebih besar dalam ekonomi global.

"Ini adalah langkah yang sangat mengkhawatirkan yang dapat memiliki konsekuensi yang luas bagi perdagangan global," kata Dr. Lee, seorang ekonom senior di sebuah lembaga think tank di Seoul. "Tarif baru ini akan meningkatkan biaya barang-barang impor bagi konsumen AS, dan juga dapat memicu tindakan balasan dari negara-negara lain, yang mengarah pada spiral proteksionisme yang merusak."

Kenaikan tarif yang tiba-tiba menjadi 15% dan pemberlakuannya yang segera semakin menambah ketidakpastian yang dirasakan oleh para pelaku ekonomi. Perubahan kebijakan yang mendadak dan tanpa peringatan ini menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas kebijakan perdagangan AS di bawah kepemimpinan Trump dan kemampuannya untuk diprediksi.

Reaksi Negara-Negara Asia:

Di Jepang, pemerintah menyatakan keprihatinannya atas pengumuman tersebut. Seorang juru bicara pemerintah mengatakan bahwa mereka "akan dengan cermat memeriksa isi putusan ini dan tanggapan pemerintahan Trump terhadapnya, dan akan menanggapinya dengan tepat." Pemerintah Jepang juga menekankan pentingnya menjaga sistem perdagangan multilateral berbasis aturan dan menghindari tindakan yang dapat merusak perdagangan global.

China, yang bersiap untuk menjamu Trump pada akhir Maret, belum secara resmi berkomentar atau melancarkan tindakan balasan apa pun. Namun, ketegangan antara kedua negara diperkirakan akan meningkat sebagai akibat dari pengumuman tarif baru ini. Para analis memperkirakan bahwa China kemungkinan akan mengambil tindakan balasan jika Trump benar-benar memberlakukan tarif tersebut.

Namun, di tengah ketidakpastian ini, ada juga beberapa pihak yang melihat peluang. Sekretaris Layanan Keuangan dan Perbendaharaan Hong Kong, Christopher Hui, mengatakan bahwa pungutan baru Trump berfungsi untuk menggarisbawahi "keunggulan perdagangan unik" Hong Kong.

"Ini menunjukkan stabilitas kebijakan Hong Kong dan kepastian kami… ini menunjukkan kepada investor global pentingnya prediktabilitas," kata Hui dalam konferensi pers.

Hong Kong beroperasi sebagai wilayah bea cukai terpisah dari daratan China, status yang telah melindunginya dari paparan langsung terhadap tarif AS yang menargetkan barang-barang China. Hui berpendapat bahwa tarif baru Trump dapat membuat Hong Kong menjadi tujuan yang lebih menarik bagi investor yang ingin menghindari dampak dari perang dagang AS-China.

Dampak Potensial:

Dampak potensial dari tarif baru Trump sangat luas. Tarif tersebut dapat meningkatkan biaya barang-barang impor bagi konsumen AS, yang dapat menyebabkan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Tarif tersebut juga dapat merugikan bisnis AS yang bergantung pada impor dari negara-negara Asia.

Selain itu, tarif tersebut dapat memicu perang dagang baru antara AS dan negara-negara lain. Jika negara-negara lain membalas dengan memberlakukan tarif mereka sendiri pada barang-barang AS, hal itu dapat merusak perdagangan global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia.

Para analis juga memperingatkan bahwa tarif baru Trump dapat menciptakan ketidakpastian yang lebih besar dalam ekonomi global. Ketidakpastian ini dapat membuat bisnis dan investor enggan untuk berinvestasi, yang dapat semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Implikasi Jangka Panjang:

Implikasi jangka panjang dari tarif baru Trump masih belum jelas. Namun, beberapa analis khawatir bahwa tindakan ini dapat merusak sistem perdagangan multilateral berbasis aturan dan mengarah pada dunia yang lebih proteksionis.

Jika AS terus memberlakukan tarif dan tindakan proteksionis lainnya, hal itu dapat mendorong negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama. Hal ini dapat mengarah pada spiral proteksionisme yang merusak perdagangan global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia.

Selain itu, tindakan Trump dapat merusak kredibilitas AS sebagai mitra dagang yang dapat diandalkan. Jika negara-negara lain tidak dapat mempercayai AS untuk menghormati perjanjian perdagangan dan mematuhi aturan perdagangan internasional, hal itu dapat merusak hubungan ekonomi AS dengan negara-negara lain.

Kesimpulan:

Pengumuman tarif baru Trump telah menciptakan gelombang ketidakpastian di kalangan mitra dagang AS di Asia. Tarif tersebut dapat meningkatkan biaya barang-barang impor, memicu perang dagang, dan menciptakan ketidakpastian yang lebih besar dalam ekonomi global.

Implikasi jangka panjang dari tarif baru Trump masih belum jelas. Namun, beberapa analis khawatir bahwa tindakan ini dapat merusak sistem perdagangan multilateral berbasis aturan dan mengarah pada dunia yang lebih proteksionis. Negara-negara di Asia, termasuk Jepang dan China, kini harus menimbang opsi mereka dan bersiap untuk kemungkinan dampak ekonomi dari kebijakan perdagangan AS yang berubah-ubah ini. Stabilitas dan prediktabilitas kebijakan perdagangan menjadi semakin penting di tengah lanskap global yang semakin tidak pasti.

Bagikan:

Cahyono

Fokus pada topik sosial, ekonomi, dan layanan masyarakat dengan gaya penulisan yang to the point.