Bank Indonesia (BI) memiliki visi ambisius untuk masa depan sistem pembayaran digital di Indonesia. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menargetkan peningkatan signifikan dalam transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) hingga mencapai 150 miliar transaksi per hari pada tahun 2030. Target ini merupakan bagian dari cetak biru Sistem Pembayaran Indonesia 2030 (BSPI 2030) yang bertujuan untuk mengakselerasi transformasi digital di sektor keuangan dan mendorong inklusi keuangan yang lebih luas. Ambisi ini didasarkan pada pertumbuhan pesat penggunaan QRIS di masyarakat Indonesia, yang telah menunjukkan potensi besar dalam memfasilitasi transaksi yang lebih mudah, cepat, dan aman.
Perry Warjiyo mengungkapkan target ambisius ini dalam acara Inisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di Kantor Bank Indonesia, Jakarta. PIDI sendiri merupakan inisiatif penting dalam mendukung ekosistem digital dan mendorong inovasi di sektor keuangan. Dengan adanya PIDI, diharapkan akan muncul berbagai solusi pembayaran digital baru yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas transaksi.
Saat ini, volume transaksi digital di Indonesia mencapai 47 miliar per hari. Untuk mencapai target 150 miliar transaksi per hari pada tahun 2030, BI akan terus berupaya untuk meningkatkan adopsi QRIS, memperluas jangkauan layanan, dan meningkatkan infrastruktur pendukung. Salah satu fokus utama adalah pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan volume transaksi QRIS.
QRIS: Evolusi Sistem Pembayaran Digital di Indonesia
QRIS diluncurkan pada tanggal 17 Agustus 2019, sebagai standar kode QR (Quick Response) yang digunakan di Indonesia untuk menghubungkan dompet digital, mobile banking, dan metode pembayaran non-tunai lainnya dengan berbagai pihak, termasuk bank dan pedagang. Sebelum QRIS, masing-masing platform pembayaran digital memiliki kode QR sendiri-sendiri, sehingga menyulitkan konsumen dan pedagang. Dengan QRIS, konsumen hanya perlu menggunakan satu kode QR untuk melakukan pembayaran di berbagai merchant yang menerima QRIS, tanpa perlu khawatir dengan platform pembayaran yang digunakan.
Peluncuran QRIS terbukti menjadi momentum penting dalam mendorong adopsi pembayaran digital di Indonesia, terutama di tengah pandemi Covid-19. Pandemi telah mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan uang tunai dan beralih ke pembayaran digital untuk menghindari kontak fisik. QRIS menjadi solusi yang praktis dan aman untuk melakukan transaksi di tengah pandemi.
Hingga saat ini, QRIS telah digunakan oleh lebih dari 60 juta pengguna di seluruh Indonesia. Jumlah ini terus bertambah seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat dan kemudahan yang ditawarkan oleh QRIS. QRIS juga telah menjangkau berbagai sektor, mulai dari ritel, makanan dan minuman, transportasi, hingga layanan publik.
Ekspansi QRIS Lintas Negara: Menuju Sistem Pembayaran Global
Selain fokus pada pasar domestik, BI juga aktif mengembangkan QRIS cross border, yang memungkinkan pengguna QRIS di Indonesia untuk melakukan pembayaran di negara lain yang telah bekerja sama dengan BI. Saat ini, QRIS sudah dapat digunakan di Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, dan segera di Cina dan Korea Selatan. BI juga sedang menjajaki kerja sama dengan Arab Saudi untuk menghubungkan QRIS dengan layanan nusuk, serta dengan India.
Ekspansi QRIS lintas negara ini akan memberikan kemudahan bagi wisatawan dan pelaku bisnis Indonesia yang sering bepergian ke luar negeri. Mereka tidak perlu lagi menukarkan uang tunai atau menggunakan kartu kredit untuk melakukan pembayaran, cukup dengan menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Selain itu, QRIS cross border juga akan meningkatkan daya saing UMKM Indonesia di pasar global, karena mereka dapat menerima pembayaran dari pelanggan dari berbagai negara.
Peran UMKM dalam Pertumbuhan Transaksi QRIS
UMKM memegang peranan penting dalam pertumbuhan transaksi QRIS di Indonesia. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 36 persen volume transaksi QRIS secara nasional berasal dari DKI Jakarta, dan mayoritas transaksi tersebut terjadi di sektor UMKM.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengatakan bahwa digitalisasi sistem pembayaran menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta. Ia menambahkan bahwa QRIS telah mempermudah UMKM untuk menerima pembayaran dari pelanggan, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperluas jangkauan pasar.
Jumlah pengguna QRIS di DKI Jakarta telah mencapai 6,17 juta jiwa, yang mencakup 10,69 persen secara nasional. Sementara itu, jumlah merchant atau pelaku usaha yang menggunakan QRIS di Jakarta tercatat 6,58 juta, atau sekitar 24 persen dari total merchant QRIS nasional. Volume transaksi QRIS di Jakarta telah mencapai hampir 6 miliar, atau sekitar 36 persen dari volume transaksi secara nasional.
Tingginya transaksi QRIS di wilayah Jakarta mencerminkan mudahnya sistem pembayaran digital diakses dan digunakan oleh masyarakat, khususnya bagi pelaku UMKM. Mayoritas transaksi digital dengan QRIS justru terjadi di sektor usaha kecil, bahkan beberapa usaha mikro sudah melakukan transaksi menggunakan QRIS.
Tantangan dan Strategi untuk Mencapai Target 150 Miliar Transaksi Per Hari
Meskipun QRIS telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, masih ada beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk mencapai target 150 miliar transaksi per hari pada tahun 2030. Beberapa tantangan tersebut antara lain:
- Infrastruktur yang belum merata: Ketersediaan infrastruktur internet yang memadai masih menjadi kendala di beberapa daerah di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan dan terpencil. Hal ini menghambat adopsi QRIS di daerah-daerah tersebut.
- Literasi digital yang masih rendah: Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum familiar dengan teknologi digital, termasuk QRIS. Hal ini menyebabkan mereka enggan untuk menggunakan QRIS dan lebih memilih menggunakan uang tunai.
- Keamanan dan kepercayaan: Beberapa masyarakat masih khawatir dengan keamanan dan privasi data saat menggunakan QRIS. Mereka takut menjadi korban penipuan atau pencurian data.
- Persaingan dengan metode pembayaran lain: QRIS harus bersaing dengan metode pembayaran lain yang sudah lebih dulu populer di masyarakat, seperti uang tunai, kartu debit, dan kartu kredit.
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, BI perlu mengambil beberapa strategi, antara lain:
- Meningkatkan infrastruktur: BI perlu bekerja sama dengan pemerintah dan pihak swasta untuk meningkatkan ketersediaan infrastruktur internet di seluruh Indonesia, terutama di wilayah pedesaan dan terpencil.
- Meningkatkan literasi digital: BI perlu melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat dan kemudahan yang ditawarkan oleh QRIS, serta cara menggunakan QRIS dengan aman.
- Meningkatkan keamanan: BI perlu meningkatkan sistem keamanan QRIS untuk melindungi data pengguna dari penipuan dan pencurian. BI juga perlu memberikan jaminan keamanan kepada pengguna QRIS agar mereka merasa lebih percaya diri dalam menggunakan QRIS.
- Memberikan insentif: BI dapat memberikan insentif kepada merchant dan pengguna QRIS untuk mendorong adopsi QRIS. Insentif tersebut dapat berupa diskon, cashback, atau program loyalitas.
- Memperluas jangkauan: BI perlu memperluas jangkauan QRIS ke berbagai sektor, termasuk sektor transportasi, layanan publik, dan pendidikan.
Dengan mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan menerapkan strategi yang tepat, Bank Indonesia optimistis dapat mencapai target 150 miliar transaksi QRIS per hari pada tahun 2030. Target ini bukan hanya sekadar angka, tetapi juga merupakan simbol dari transformasi digital di sektor keuangan Indonesia yang akan membawa manfaat bagi seluruh masyarakat. Dengan QRIS, transaksi menjadi lebih mudah, cepat, aman, dan inklusif, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.





