PT Aneka Tambang Tbk (Antam), perusahaan pertambangan terkemuka di Indonesia, menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dengan mengubah lahan tidur pascabencana menjadi sumber pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar wilayah tambang Pongkor, Kabupaten Bogor. Inisiatif yang dikenal dengan nama "Garitan Kalongliud" ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang penguatan ekonomi dan ketahanan sosial masyarakat.
Kisah transformasi ini bermula dari bencana banjir dan longsor yang melanda Desa Kalongliud enam tahun lalu, tepatnya pada tahun 2020. Ratusan hektare lahan pertanian rusak parah, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Kondisi diperparah dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia, menyebabkan lahan pascabencana semakin tidak produktif di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan ekonomi masyarakat.
Menyadari kondisi tersebut, Antam hadir dengan solusi inovatif melalui program Garitan Kalongliud. Program ini berfokus pada penerapan konsep pertanian sirkular, yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu kunci keberhasilan program ini adalah pemanfaatan limbah lokal, termasuk kotoran ternak domba, yang diolah menjadi pupuk organik berkualitas tinggi. Penggunaan pupuk organik ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia hingga 50 persen, tetapi juga meningkatkan kesuburan tanah secara alami.
Selain itu, Antam juga memperkenalkan sistem irigasi tetes yang efisien, yang mampu menghemat konsumsi air hingga 60 persen. Sistem ini sangat penting mengingat ketersediaan air bersih yang terbatas di wilayah tersebut. Dengan sistem irigasi tetes, air dapat dialirkan langsung ke akar tanaman secara perlahan dan terukur, sehingga mengurangi pemborosan dan memastikan tanaman mendapatkan pasokan air yang cukup.
Program Garitan Kalongliud tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga dampak sosial yang signifikan. Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen, sementara biaya pupuk menurun sekitar 50 persen. Pada periode budidaya cabai tahun 2024-2025, kegiatan usaha ini mencatatkan keuntungan sebesar Rp 246.258.000. Keuntungan ini kemudian digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok tani dan mengembangkan usaha pertanian mereka.
"Perjalanan Kalongliud menunjukkan bahwa pemulihan desa tidak selalu harus dimulai dari intervensi besar, melainkan dari perancangan sistem yang tepat. Dari lahan tidur yang kembali hidup, desa perlahan membangun ketahanan pangan dan ekonomi dengan pijakan yang lebih berkelanjutan," ujar Sekretaris Perusahaan Antam, Wisnu Danandi Haryanto.
Lebih dari sekadar program pertanian, Garitan Kalongliud juga memiliki dimensi inklusif yang kuat. Program ini menjangkau kelompok masyarakat rentan, termasuk buruh tani, lansia, anak-anak, keluarga pra-sejahtera, hingga mantan pelaku pertambangan tanpa izin. Tercatat 869 penerima manfaat langsung dan 9.874 penerima manfaat tidak langsung dari program ini. Keterlibatan kelompok rentan dalam sistem ekonomi desa ini memberikan mereka kesempatan untuk meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup mereka.
Salah satu aspek menarik dari program ini adalah pelibatan mantan pelaku pertambangan tanpa izin. Antam memberikan pelatihan dan pendampingan kepada mereka untuk beralih ke sektor pertanian yang lebih berkelanjutan. Langkah ini tidak hanya membantu mengurangi aktivitas pertambangan ilegal, tetapi juga memberikan alternatif mata pencaharian yang lebih stabil dan ramah lingkungan.
Sebelum program Garitan Kalongliud berjalan, petani di Desa Kalongliud cenderung bekerja secara individual dan bergantung pada tengkulak. Biaya produksi relatif tinggi, sementara serangan hama keong kerap merusak lahan budidaya. Namun, dengan adanya program ini, petani terorganisir dalam empat kelompok tani resmi yang dibentuk melalui Surat Keputusan Desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan sebagai simpul pasar, memperkuat akses distribusi dan posisi tawar petani.
BUMDes membantu petani dalam memasarkan hasil panen mereka secara langsung ke konsumen atau pasar yang lebih luas. Hal ini mengurangi ketergantungan pada tengkulak dan memungkinkan petani untuk mendapatkan harga yang lebih baik. Selain itu, BUMDes juga menyediakan akses terhadap informasi pasar dan teknologi pertanian, sehingga petani dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen mereka.
Keberhasilan program Garitan Kalongliud tidak lepas dari dukungan dan partisipasi aktif masyarakat Desa Kalongliud. Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap program ini mencapai 90,82 persen, menunjukkan bahwa program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Masyarakat merasa bahwa program ini telah memberikan dampak positif terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan desa mereka.
Kisah sukses Garitan Kalongliud menjadi contoh inspiratif bagi perusahaan pertambangan lainnya untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan. Antam telah menunjukkan bahwa perusahaan pertambangan dapat berperan aktif dalam memulihkan lahan pascabencana, memberdayakan masyarakat, dan menciptakan sumber kehidupan baru.
Perubahan Nama Antam dan Implikasinya
Selain kisah sukses Garitan Kalongliud, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga mengalami perubahan signifikan dalam struktur kepemilikan dan tata kelola perusahaan. Bersama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Antam resmi mengubah nama dengan menambahkan status perusahaan perseroan (Persero). Perubahan ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 (UU BUMN).
Menurut UU BUMN, negara memiliki saham 1 persen pada BUMN yang merupakan saham Seri A Dwiwarna melalui kepala BP BUMN. Sementara sisa 99 persen saham (Seri B) dikelola oleh BPI Danantara. Meskipun negara saat ini memiliki 1 persen kepemilikan saham, Antam dan PTBA masih merupakan bagian dari BUMN Holding Industri Pertambangan alias MIND ID.
COO Danantara Dony Oskaria menjelaskan bahwa perubahan nama ini tidak ada hubungannya dengan BUMN baru pengelola mineral hilir, yakni PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Perubahan ini murni merupakan implementasi dari UU BUMN yang baru.
"Memang di undang-undangnya itu, lihat undang-undang BUMN yang baru, di situ ada kepemilikan 1 persen dari negara untuk yang besar-besar, tapi tetap di bawah MIND ID," ujar Dony saat dijumpai di Kompleks DPR RI, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Perubahan nama dan struktur kepemilikan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas Antam dalam menjalankan bisnisnya. Dengan adanya kepemilikan negara, Antam diharapkan dapat lebih fokus pada kepentingan nasional dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
Kesimpulan
Kisah transformasi lahan tidur menjadi sumber kehidupan baru di Kalongliud dan perubahan nama Antam merupakan dua contoh penting dari komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan dan tata kelola perusahaan yang baik. Antam telah menunjukkan bahwa perusahaan pertambangan dapat berperan aktif dalam memulihkan lingkungan, memberdayakan masyarakat, dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Dengan terus berinovasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, Antam diharapkan dapat menjadi contoh bagi perusahaan pertambangan lainnya dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Program Garitan Kalongliud adalah bukti nyata bahwa dengan perencanaan yang matang, teknologi yang tepat, dan partisipasi aktif masyarakat, lahan pascabencana dapat diubah menjadi sumber kehidupan baru yang berkelanjutan.





