Jakarta – Pasar pangan nasional tengah mengalami dinamika harga yang cukup signifikan di tingkat pedagang eceran. Data terbaru yang dirilis oleh Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, sebuah lembaga di bawah naungan Bank Indonesia, menunjukkan adanya fluktuasi harga pada sejumlah komoditas pokok. Dua komoditas yang paling mencuri perhatian adalah cabai rawit merah dan telur ayam ras, yang merupakan komponen penting dalam konsumsi rumah tangga sehari-hari.

Pada Selasa, 24 Februari 2026, pukul 10.45 WIB, harga cabai rawit merah dilaporkan mencapai Rp 83.550 per kilogram. Angka ini menunjukkan peningkatan yang cukup tajam dibandingkan dengan beberapa waktu sebelumnya, dan tentunya menjadi perhatian utama bagi konsumen serta pelaku industri makanan yang bergantung pada cabai sebagai bahan baku. Kenaikan harga cabai rawit merah ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca yang tidak menentu, gagal panen di beberapa sentra produksi, hingga masalah distribusi yang menghambat pasokan ke pasar-pasar tradisional dan modern.

Sementara itu, harga telur ayam ras juga mengalami kenaikan, meskipun tidak separah cabai rawit merah. Data PIHPS mencatat harga telur ayam ras berada di level Rp 32.100 per kilogram. Telur ayam merupakan sumber protein hewani yang terjangkau dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Kenaikan harga telur ini tentu akan berdampak pada daya beli masyarakat, terutama bagi keluarga dengan anggaran terbatas. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi harga telur ayam antara lain adalah biaya pakan ternak yang terus meningkat, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (karena sebagian pakan ternak masih diimpor), serta adanya gangguan pada rantai pasok akibat masalah transportasi atau logistik.

Selain cabai rawit merah dan telur ayam ras, komoditas bumbu dapur lainnya seperti bawang merah dan bawang putih juga mengalami pergerakan harga yang perlu diwaspadai. Harga bawang merah saat ini berada di kisaran Rp 44.900 per kilogram, sedangkan bawang putih dibanderol seharga Rp 39.750 per kilogram. Bawang merah dan bawang putih merupakan bumbu dasar yang hampir selalu digunakan dalam masakan Indonesia. Kenaikan harga kedua komoditas ini tentu akan memengaruhi biaya produksi makanan, baik di tingkat rumah tangga maupun industri.

Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menstabilkan harga bumbu dapur ini, seperti meningkatkan produksi dalam negeri, memperbaiki sistem distribusi, serta memberantas praktik penimbunan yang dapat memicu kenaikan harga.

Sektor pangan pokok seperti beras juga tidak luput dari perhatian. Beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, stabilitas harga beras sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi. Data PIHPS menunjukkan adanya perbedaan harga beras berdasarkan kualitasnya. Untuk kategori beras kualitas bawah I, harga dipatok Rp 14.100 per kilogram, sedangkan kualitas bawah II sebesar Rp 13.900 per kilogram.

Bagi masyarakat yang mengonsumsi beras kualitas menengah, harga beras medium I kini mencapai Rp 15.600 per kilogram, disusul medium II di angka Rp 15.500 per kilogram. Kenaikan harga paling terasa ada pada segmen premium, di mana beras kualitas super I kini menembus harga Rp 17.000 per kilogram dan super II di posisi Rp 16.500 per kilogram. Perbedaan harga ini mencerminkan preferensi konsumen terhadap kualitas beras yang berbeda-beda. Namun, kenaikan harga beras secara umum dapat menjadi beban bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

Pemerintah perlu terus memantau perkembangan harga beras dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas harga. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain adalah menjaga ketersediaan stok beras melalui pengadaan yang tepat waktu, mengendalikan impor beras agar tidak mengganggu petani lokal, serta meningkatkan efisiensi distribusi beras dari petani ke konsumen.

Fluktuasi harga pangan ini menunjukkan bahwa sistem pangan nasional masih rentan terhadap berbagai faktor eksternal dan internal. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih komprehensif dan terkoordinasi dari berbagai pihak untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Pemerintah, petani, pedagang, dan konsumen perlu bekerja sama untuk menciptakan rantai pasok pangan yang efisien dan transparan. Selain itu, investasi dalam teknologi pertanian dan infrastruktur juga penting untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya produksi. Edukasi kepada konsumen mengenai pola konsumsi yang sehat dan beragam juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas tertentu.

Bank Indonesia sebagai lembaga yang mengelola PIHPS Nasional memiliki peran penting dalam menyediakan informasi harga pangan yang akurat dan terkini kepada masyarakat. Informasi ini dapat digunakan oleh pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen untuk mengambil keputusan yang tepat. Selain itu, Bank Indonesia juga dapat berperan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, yang dapat memengaruhi harga pangan impor.

Secara keseluruhan, gejolak harga pangan ini merupakan tantangan yang perlu diatasi bersama. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, diharapkan sistem pangan nasional dapat menjadi lebih kuat dan mampu memenuhi kebutuhan pangan seluruh masyarakat Indonesia dengan harga yang terjangkau. Pemerintah perlu segera mengambil langkah antisipatif untuk menekan laju inflasi pangan dan memastikan ketersediaan pasokan pangan yang cukup menjelang hari-hari besar keagamaan dan musim-musim paceklik.

Bagikan:

Cahyono

Fokus pada topik sosial, ekonomi, dan layanan masyarakat dengan gaya penulisan yang to the point.