Ketegangan geopolitik yang semakin membara di Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Iran, diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap pasar global, terutama harga emas. Analis komoditas memperkirakan bahwa harga emas dunia berpotensi melambung hingga USD 6.000 per troy ounce pada Maret jika konflik terus berlanjut. Eskalasi ini, ditambah faktor-faktor lain seperti ketidakpastian kebijakan ekonomi dan potensi perubahan suku bunga, diperkirakan akan memicu pergerakan harga emas yang dramatis, serta memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Kekhawatiran ini muncul setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan serangan pre-emptif terhadap Iran. Serangan ini, yang belum dikonfirmasi secara detail oleh pihak Israel maupun Amerika Serikat, semakin memperkeruh suasana di kawasan yang memang sudah rentan. Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan, dengan investor berbondong-bondong mencari aset safe haven, dan emas menjadi pilihan utama.
Ibrahim Assuaibi, seorang analis komoditas terkemuka, menjelaskan bahwa kombinasi antara faktor geopolitik dan moneter menjadi pendorong utama kenaikan harga emas. "Eskalasi perang di Timur Tengah menjadi pemicu utama," ujarnya. Konflik antara Israel dan Iran, yang berpotensi menyeret Amerika Serikat, meningkatkan ketidakpastian global secara signifikan. Investor, yang selalu menghindari risiko dalam situasi seperti ini, beralih ke emas sebagai perlindungan nilai aset mereka.
"Kalau perang ini masih terus berkecamuk, kemungkinan besar level USD 6.000 per troy ounce bisa tercapai di bulan Maret," tegas Ibrahim. Prediksi ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap dinamika pasar dan potensi dampak dari konflik yang berkelanjutan.
Selain eskalasi militer, sentimen negatif juga datang dari potensi perang dagang. Ancaman mantan Presiden AS, Donald Trump, untuk menerapkan tarif impor 15% kepada negara mitra dagang, menjadi momok bagi pasar global. Kebijakan ini, jika benar-benar diterapkan, dapat memicu gelombang ketidakpastian baru dan semakin mendorong investor untuk mencari perlindungan di aset-aset yang dianggap aman, seperti emas. Ketidakpastian dalam perdagangan global selalu menjadi katalis bagi kenaikan harga emas, dan ancaman Trump ini semakin memperkuat sentimen tersebut.
Lebih lanjut, arah kebijakan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), juga menjadi faktor krusial yang perlu diperhatikan. Ibrahim menilai bahwa peluang penurunan suku bunga pada tahun 2026 masih terbuka lebar, terutama setelah masa jabatan Jerome Powell sebagai Gubernur The Fed berakhir dan digantikan oleh figur baru.
Ia menyinggung nama Kevin Warsh sebagai salah satu kandidat potensial yang dapat mendorong pelonggaran moneter yang lebih agresif. "Kalau suku bunga diturunkan lebih banyak, emas akan kembali naik karena dolar melemah dan likuiditas bertambah," jelasnya. Penurunan suku bunga akan membuat dolar AS menjadi kurang menarik, sehingga mendorong investor untuk beralih ke aset lain, termasuk emas. Selain itu, peningkatan likuiditas di pasar juga akan memberikan dorongan tambahan bagi harga emas.
Dalam jangka pendek, Ibrahim memprediksi bahwa harga emas dunia berpotensi mengalami gap up atau lonjakan awal ke level USD 5.500 per troy ounce. Jika konflik terus berlanjut dan suku bunga diturunkan, kenaikan lanjutan menuju USD 6.000 sangat mungkin terjadi. Skenario ini menggambarkan betapa sensitifnya harga emas terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter.
Dampak dari kenaikan harga emas global ini juga akan terasa di dalam negeri. Pelemahan nilai tukar rupiah, yang berpotensi mendekati Rp 17.000 per dolar AS, akan semakin memperkuat kenaikan harga emas batangan di Indonesia. Ibrahim memperkirakan bahwa harga logam mulia bisa menembus Rp 3.500.000 per gram pada bulan Maret. Hal ini tentu akan menjadi kabar buruk bagi konsumen dan investor lokal yang ingin membeli emas.
"Fundamental inilah yang mempengaruhi harga emas dunia maupun logam mulia. Kombinasi perang, perang dagang, dan kebijakan suku bunga akan membuat harga emas terus naik," tegas Ibrahim. Analisis ini menekankan pentingnya memahami berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan harga emas, sehingga investor dapat mengambil keputusan yang tepat.
Sementara itu, laporan dari media Iran menyebutkan adanya serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap sebuah sekolah putri di wilayah selatan Iran. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa sedikitnya 40 orang tewas dalam serangan tersebut. Middle East Eye melaporkan bahwa serangan itu menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh yang terletak di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, dan menyebabkan setidaknya 45 orang lainnya mengalami luka-luka.
Hingga saat ini, belum ada rincian lebih lanjut mengenai identitas para korban maupun kondisi terkini para korban luka. Pihak berwenang setempat juga belum mengungkapkan waktu pasti terjadinya serangan tersebut. Kota Minab diketahui memiliki pangkalan milik Garda Revolusi Iran, pasukan paramiliter yang berperan penting dalam sistem pertahanan negara tersebut. Namun, belum ada keterangan resmi yang menjelaskan apakah keberadaan pangkalan tersebut berkaitan langsung dengan serangan yang terjadi di sekolah putri itu.
Pemerintah AS maupun Israel belum memberikan keterangan atau rincian resmi terkait operasi militer mereka. Keheningan ini semakin memperburuk suasana dan memicu spekulasi di kalangan analis dan pengamat politik.
Dalam perkembangan terpisah, serpihan dari serangan balasan rudal Iran ke ibu kota Uni Emirat Arab dilaporkan menewaskan satu orang pada hari Sabtu. Informasi itu disampaikan oleh kantor berita negara Uni Emirat Arab, WAM. Korban jiwa tersebut merupakan yang pertama diketahui dalam serangan balasan Iran. Belum ada informasi tambahan mengenai lokasi spesifik di ibu kota Uni Emirat Arab yang terdampak serpihan rudal tersebut maupun identitas korban. Pihak berwenang setempat juga belum mengumumkan jumlah korban luka dalam insiden tersebut.
Kondisi ini semakin memperlihatkan betapa berbahayanya situasi di Timur Tengah. Serangan dan serangan balasan yang terus terjadi meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih besar, yang dapat berdampak buruk bagi stabilitas regional dan global.
Kesimpulan:
Kombinasi antara eskalasi konflik di Timur Tengah, potensi perang dagang, dan ketidakpastian kebijakan suku bunga oleh The Fed, menciptakan lingkungan yang sangat mendukung kenaikan harga emas. Prediksi bahwa harga emas dapat mencapai USD 6.000 per troy ounce pada bulan Maret bukanlah isapan jempol belaka, melainkan didasarkan pada analisis mendalam terhadap dinamika pasar dan potensi dampak dari berbagai faktor tersebut.
Bagi investor, ini adalah saat yang tepat untuk mempertimbangkan alokasi aset ke emas sebagai perlindungan nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Namun, perlu diingat bahwa investasi emas juga memiliki risiko, dan penting untuk melakukan riset yang mendalam sebelum mengambil keputusan.
Sementara itu, pemerintah dan otoritas terkait perlu mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi potensi dampak negatif dari kenaikan harga emas dan pelemahan nilai tukar rupiah. Stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi menjadi prioritas utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.





