Di ujung barat Indonesia, tersembunyi potensi besar yang lama terpendam: nilam Aceh. Tanaman yang dikenal dunia internasional sebagai patchouli ini, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Bagi sebagian besar petani, nilam bukan hanya sekadar komoditas pertanian, melainkan harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Nilam adalah sumber pendapatan, warisan budaya, dan simbol ketahanan ekonomi.
Namun, dua dekade terakhir menjadi masa-masa sulit bagi industri nilam Aceh. Fluktuasi harga yang ekstrem, bahkan penurunan drastis, membuat banyak petani putus asa dan beralih ke tanaman lain. Mimpi tentang "emas hijau" yang menjanjikan kemakmuran seolah sirna ditelan ketidakpastian pasar.
Jakfar Siddiq, Ketua Kelompok Tani Seulawah Agam, masih mengingat dengan jelas masa kejayaan nilam di Desa Teuladan. Sejak tahun 1998, hampir seluruh lahan di desa tersebut ditanami nilam, didorong oleh harga yang fantastis, mencapai Rp 1 juta per kilogram. Namun, euforia itu tak berlangsung lama. Harga nilam kemudian merosot tajam hingga hanya Rp 85 ribu per kilogram, membuat para petani merugi dan meninggalkan tanaman tersebut.
"Di tahun 2024 ini baru muncul lagi nilam. Ini nampaknya kalau enggak bertahan harga, anjlok lagi, ini yang jadi permasalahan nilam dan akan beralih ke jagung," ujar Jakfar, mengungkapkan kekhawatirannya tentang masa depan nilam. Saat ini, sekitar 20 hektare lahan di Desa Teuladan kembali menghijau oleh tanaman nilam. Namun, tantangan budidaya tetap ada. Tanah yang terlalu subur memicu pertumbuhan gulma yang cepat, memaksa petani untuk membersihkan lahan secara intensif. Untungnya, masalah hama dan penyakit kini lebih terkendali berkat penggunaan cairan khusus.
Proses panen nilam pun membutuhkan ketelitian dan keahlian. Dari 50 kilogram daun nilam, hanya sekitar 1,3 kilogram minyak nilam yang dihasilkan. Kualitas minyak sangat menentukan harga jual, sehingga petani harus berhati-hati dalam setiap tahapan proses produksi.
Tata Kelola Rantai Pasok: Kunci Keberlanjutan Nilam Aceh
Menurut Razuan, Direktur Razma Agro Jayana, persoalan utama dalam industri nilam Aceh bukanlah kurangnya permintaan pasar global. Sebaliknya, dunia justru masih kekurangan pasokan minyak nilam. Kebutuhan global mencapai 2.000-2.500 ton per tahun, sementara pasokan hanya sekitar 1.000-1.200 ton.
"Sekarang pembeli luar negeri tidak hanya tanya harga. Mereka tanya siapa petaninya, kapan tanamnya, bagaimana prosesnya. Semua harus jelas," jelas Razuan. Ia menambahkan bahwa masalah klasik yang dihadapi industri nilam Aceh adalah tata kelola rantai pasok yang belum efisien dan kepastian harga di tingkat petani.
Untuk mengatasi masalah ini, Razuan menerapkan model kontrak farming. Dalam model ini, petani mendapat jaminan pembeli dan harga minimal, serta difasilitasi akses pembiayaan. Biaya tanam satu hektare nilam berkisar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta. Dengan produktivitas rata-rata 200-300 kilogram per tahun, potensi pendapatan bersih petani bisa mencapai sekitar Rp 10 juta per bulan, tergantung pada harga pasar.
"Kalau satu hektare itu, meskipun hanya menghasilkan 150 kilogram per tahun, pendapatannya sudah setara upah minimum," kata Razuan, menekankan potensi ekonomi nilam bagi petani. Hingga tahun 2026, Razma telah mengintegrasikan 500 petani dengan luas lahan 592 hektare di delapan kabupaten/kota melalui sistem Razma Digitalize Nilam Ecosystem. Sistem ini memastikan produksi dapat ditelusuri dari kebun hingga ekspor, meningkatkan transparansi dan kepercayaan pembeli.
Harga Global dan Tantangan Digitalisasi Industri Nilam
Faisal Alfarisi, Direktur PT U Green Aromatic International, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga minyak nilam masih sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Saat ini, harga minyak nilam berada di kisaran Rp 680 ribu-Rp 700 ribu per kilogram, turun dibandingkan akhir tahun 2024 yang sempat menyentuh Rp 1,35 juta bahkan Rp 2 juta di beberapa wilayah.
"HPP minyak nilam berada di kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 550 ribu per kilogram. Jadi secara hitungan masih ada keuntungan," ujar Faisal. Perusahaannya membeli minyak dari petani lalu mengekspor ke Prancis dan Amerika Serikat. Namun, harga beli tetap mengikuti pergerakan buyer internasional. "Kalau buyer kita beli turun, kita juga harus beli dari petani turun. Tapi kalau naik, kita juga naikkan," jelasnya.
Literasi Digital: Kunci Integrasi dan Akses Pembiayaan
Ade Surya Mandira, Dosen Agribisnis Universitas Syiah Kuala, menilai bahwa penguatan tata kelola industri nilam Aceh kini bergerak melalui platform digital Mynila yang terintegrasi dalam Integrated Reporting Platform (IRP). Sistem ini mencatat data petani, lahan, produksi, hingga transaksi, memungkinkan transparansi dan akuntabilitas yang lebih baik.
"Bukan karena petaninya tidak mau, tetapi memang keterbatasan literasi digital dan jaringan," kata Ade, menyoroti tantangan dalam mengadopsi teknologi digital di kalangan petani nilam. Menurutnya, digitalisasi rantai pasok menjadi kunci untuk meningkatkan kepercayaan buyer global sekaligus membuka akses pembiayaan perbankan bagi petani. Dengan data yang akurat dan transparan, bank akan lebih percaya untuk memberikan pinjaman kepada petani nilam.
Nilam Aceh mungkin pernah tertidur lelap, namun kini "emas hijau" itu perlahan kembali bangkit. Melalui integrasi rantai pasok, kontrak yang lebih adil, dan digitalisasi, industri nilam Aceh memiliki potensi besar untuk kembali berjaya dan memberikan kesejahteraan bagi para petani. Investasi dalam peningkatan literasi digital dan infrastruktur jaringan menjadi krusial untuk memastikan bahwa petani dapat sepenuhnya memanfaatkan potensi teknologi dan berpartisipasi dalam pasar global. Kebangkitan nilam Aceh bukan hanya tentang keuntungan ekonomi, tetapi juga tentang melestarikan warisan budaya dan membangun masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Aceh. Dengan inovasi dan tata kelola yang baik, nilam Aceh dapat kembali menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.





