Krisis geopolitik global selalu membawa dampak signifikan terhadap pasar energi, khususnya minyak. Dua negara yang kerap menjadi sorotan dalam dinamika ini adalah Venezuela dan Iran. Meskipun keduanya memiliki peran penting dalam industri minyak dunia, ancaman yang ditimbulkan oleh masing-masing negara terhadap stabilitas pasar energi sangat berbeda. Venezuela, dengan masalah produksi yang kronis, memiliki dampak yang relatif terbatas. Sebaliknya, Iran, dengan posisinya yang strategis dalam jalur distribusi energi global, berpotensi menimbulkan guncangan yang jauh lebih besar.
Saat ini, Venezuela hanya mampu memproduksi sekitar 800.000 barel minyak per hari. Angka ini sangat jauh dari puncak produksinya pada era 1990-an, ketika negara tersebut mampu menghasilkan 3,5 juta barel per hari. Penurunan produksi Venezuela disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya investasi, korupsi, dan sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Akibatnya, dampak Venezuela terhadap pasar minyak global lebih terbatas pada penurunan pasokan, yang sudah diantisipasi oleh pasar.
Namun, ancaman yang ditimbulkan oleh Iran jauh lebih kompleks dan berpotensi merusak. Kenneth Goh dari UOB Kay Hian di Singapura dengan tepat mengidentifikasi bahwa risiko terbesar dari Iran bukan pada produksi minyaknya, melainkan pada potensi gangguan terhadap jalur distribusi energi global. Iran memiliki posisi geografis yang sangat strategis, terutama karena mengendalikan sebagian Selat Hormuz, jalur laut vital yang menghubungkan produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar-pasar utama di seluruh dunia.
Selat Hormuz adalah jalur arteri utama bagi perdagangan minyak global. Data dari Kpler menunjukkan bahwa pada tahun 2025, diperkirakan sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari akan melewati selat ini. Jumlah ini setara dengan sekitar 31% dari total pengiriman minyak mentah global melalui jalur laut. Dengan kata lain, setiap gangguan pada lalu lintas maritim di Selat Hormuz dapat menyebabkan gejolak besar pada harga minyak dan pasokan energi global.
Ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel, selalu membayangi stabilitas Selat Hormuz. Iran telah berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut sebagai respons terhadap sanksi atau tindakan militer terhadap program nuklirnya. Ancaman ini bukan hanya sekadar gertakan. Iran memiliki kemampuan militer yang signifikan di wilayah tersebut, termasuk kapal cepat, rudal anti-kapal, dan ranjau laut, yang dapat digunakan untuk mengganggu lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
Contoh nyata dari potensi dampak gangguan di Selat Hormuz terlihat pada Juni 2025, ketika Israel dikabarkan menyerang situs nuklir Iran. Pasar saham global langsung bereaksi dengan penurunan tajam di awal perdagangan. Meskipun pasar kemudian pulih setelah dipastikan bahwa jalur distribusi di Selat Hormuz tidak terganggu, insiden ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap potensi konflik di wilayah tersebut.
Implikasi dari gangguan di Selat Hormuz jauh melampaui sekadar kenaikan harga minyak. Gangguan tersebut dapat memicu resesi global, menyebabkan inflasi yang tinggi, dan mengganggu rantai pasokan global. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah akan menjadi yang paling terpukul. Selain itu, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu konflik regional yang lebih luas, dengan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.
Alicia García-Herrero dari Natixis memperkirakan bahwa pembukaan pasar pada hari Senin setelah insiden seperti serangan terhadap situs nuklir Iran akan sangat bergejolak. Ia memproyeksikan bahwa saham global bisa turun 1% hingga 2% atau lebih, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun 5 hingga 10 basis poin, dan harga minyak naik 5% hingga 10%. Proyeksi ini menggambarkan betapa seriusnya dampak potensial dari gangguan di Selat Hormuz terhadap pasar keuangan global.
Untuk mengurangi risiko yang terkait dengan potensi gangguan di Selat Hormuz, negara-negara pengimpor minyak perlu mengambil langkah-langkah proaktif. Langkah-langkah ini meliputi diversifikasi sumber energi, pengembangan cadangan strategis minyak, dan peningkatan efisiensi energi. Selain itu, diplomasi yang intensif diperlukan untuk meredakan ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, serta untuk memastikan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk perdagangan internasional.
Diversifikasi sumber energi adalah langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dari Timur Tengah. Negara-negara dapat berinvestasi dalam energi terbarukan, seperti tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga air. Selain itu, negara-negara dapat mengembangkan sumber energi alternatif, seperti gas alam cair (LNG) dan biofuel. Dengan mendiversifikasi sumber energi, negara-negara dapat mengurangi risiko yang terkait dengan potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Pengembangan cadangan strategis minyak juga merupakan langkah penting untuk melindungi diri dari potensi gangguan pasokan. Cadangan strategis minyak adalah persediaan minyak yang disimpan oleh pemerintah untuk digunakan dalam keadaan darurat. Cadangan ini dapat digunakan untuk menstabilkan harga minyak dan memastikan pasokan energi yang cukup selama periode gangguan pasokan.
Peningkatan efisiensi energi juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada minyak. Negara-negara dapat menerapkan kebijakan yang mendorong penggunaan transportasi publik, pengembangan bangunan hemat energi, dan penggunaan peralatan industri yang lebih efisien. Dengan meningkatkan efisiensi energi, negara-negara dapat mengurangi permintaan minyak dan mengurangi risiko yang terkait dengan potensi gangguan pasokan.
Diplomasi yang intensif juga diperlukan untuk meredakan ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat. Negara-negara dapat bekerja sama untuk mencapai kesepakatan nuklir baru dengan Iran yang membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi. Selain itu, negara-negara dapat bekerja sama untuk menyelesaikan konflik regional di Timur Tengah secara damai. Dengan meredakan ketegangan di wilayah tersebut, negara-negara dapat mengurangi risiko gangguan di Selat Hormuz.
Kesimpulannya, meskipun produksi minyak Venezuela yang rendah memberikan dampak pada pasar energi global, ancaman terbesar terhadap stabilitas pasar energi global saat ini berasal dari potensi gangguan terhadap jalur distribusi minyak yang dikendalikan oleh Iran, khususnya di Selat Hormuz. Gangguan di selat ini dapat menyebabkan gejolak besar pada harga minyak, resesi global, dan bahkan konflik regional yang lebih luas. Oleh karena itu, negara-negara pengimpor minyak perlu mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengurangi risiko yang terkait dengan potensi gangguan di Selat Hormuz, termasuk diversifikasi sumber energi, pengembangan cadangan strategis minyak, peningkatan efisiensi energi, dan diplomasi yang intensif. Dengan mengambil langkah-langkah ini, negara-negara dapat melindungi diri dari dampak negatif dari potensi gangguan di Selat Hormuz dan memastikan pasokan energi yang stabil dan terjangkau.





