Harga emas dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Jumat, mendekati level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Kenaikan ini didorong oleh kombinasi faktor, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik global dan melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Logam mulia ini bahkan berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan bulanan ketujuh berturut-turut, sebuah pencapaian yang menggarisbawahi perannya sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah gejolak ekonomi dan politik.

Menurut laporan CNBC pada Sabtu, 28 Februari 2026, harga emas spot naik 0,8% menjadi USD 5.230,56 per ons. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari, menunjukkan momentum positif yang kuat. Secara kumulatif, sepanjang bulan Februari, harga emas telah menguat sekitar 7,6%, mengukuhkan performa solid di tengah ketidakpastian pasar.

Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April juga mencatatkan kenaikan signifikan. Kontrak ini ditutup naik 1% ke level USD 5.247,90 per ons, mencerminkan sentimen bullish yang meluas di kalangan investor. Kenaikan harga emas ini menunjukkan bahwa investor semakin mencari perlindungan dalam aset yang dianggap aman di tengah meningkatnya risiko global.

Phillip Streible, kepala analis Blue Line Futures, menyoroti peran ketegangan geopolitik sebagai pendorong utama kenaikan harga emas. "Kami melihat banyak kegelisahan terkait geopolitik," ujarnya. "Ada kondisi yang mengarah pada probabilitas tinggi operasi militer pada akhir pekan, sehingga terjadi risk-off dan arus dana mengalir ke aset safe haven."

Pernyataan Streible menyoroti bahwa investor cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap aset berisiko (risk-off) dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti emas ketika ketidakpastian meningkat. Dalam konteks ini, ketegangan geopolitik berfungsi sebagai katalis yang memicu aksi jual aset berisiko dan mendorong permintaan terhadap emas.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga emas. Meskipun mediator Oman mengklaim adanya kemajuan dalam pembicaraan nuklir pada Kamis, negosiasi tersebut belum menghasilkan terobosan yang signifikan. Akibatnya, kekhawatiran tentang potensi serangan militer AS tetap tinggi, terutama mengingat peningkatan aktivitas militer di wilayah tersebut.

Ketidakpastian seputar hubungan AS-Iran ini menambah lapisan kompleksitas pada lanskap geopolitik global. Investor khawatir bahwa eskalasi konflik dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan memicu volatilitas pasar. Dalam skenario seperti itu, emas sering dianggap sebagai tempat berlindung yang aman, yang mendorong permintaan dan menopang harganya.

Selain ketegangan AS-Iran, faktor lain yang berkontribusi terhadap kenaikan harga emas adalah keputusan Kedutaan Besar AS di Yerusalem untuk mengizinkan staf non-esensial dan keluarga mereka meninggalkan Israel dengan alasan keamanan. Langkah ini semakin memperkuat persepsi tentang meningkatnya risiko di wilayah tersebut dan mendorong investor untuk mencari perlindungan dalam aset safe haven.

Keputusan Kedutaan Besar AS ini dapat diartikan sebagai sinyal bahwa pemerintah AS menganggap situasi keamanan di Israel semakin memburuk. Hal ini memicu kekhawatiran tentang potensi konflik regional yang lebih luas dan dampaknya terhadap ekonomi global. Dalam konteks ini, emas menjadi pilihan investasi yang menarik karena dianggap mampu mempertahankan nilainya selama masa krisis.

Selain faktor geopolitik, melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah AS juga berperan dalam mendukung harga emas. Imbal hasil obligasi yang lebih rendah membuat emas menjadi aset yang lebih menarik karena emas tidak memberikan imbal hasil (yield). Ketika imbal hasil obligasi turun, biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga meningkatkan daya tariknya bagi investor.

Hubungan terbalik antara imbal hasil obligasi dan harga emas adalah fenomena yang umum di pasar keuangan. Ketika imbal hasil obligasi naik, investor cenderung menjual emas dan membeli obligasi karena mereka dapat memperoleh pendapatan dari bunga obligasi. Sebaliknya, ketika imbal hasil obligasi turun, investor cenderung membeli emas karena mereka tidak dapat memperoleh pendapatan dari obligasi.

Secara keseluruhan, kenaikan harga emas baru-baru ini mencerminkan kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dan kekhawatiran tentang potensi konflik militer telah mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Pada saat yang sama, melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah AS telah membuat emas menjadi investasi yang lebih menarik dibandingkan dengan aset pendapatan tetap.

Ke depan, prospek harga emas akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter. Jika ketegangan geopolitik terus meningkat, atau jika imbal hasil obligasi pemerintah AS terus menurun, harga emas kemungkinan akan terus naik. Namun, jika ada kemajuan dalam negosiasi diplomatik, atau jika imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, harga emas mungkin akan mengalami koreksi.

Investor yang mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam emas harus menyadari bahwa harga emas dapat berfluktuasi secara signifikan dalam jangka pendek. Oleh karena itu, penting untuk melakukan riset yang cermat dan mempertimbangkan toleransi risiko pribadi sebelum membuat keputusan investasi. Diversifikasi portofolio juga merupakan strategi yang bijaksana untuk mengurangi risiko secara keseluruhan.

Sebagai kesimpulan, lonjakan harga emas baru-baru ini menggarisbawahi perannya sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik yang meningkat dan melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah AS telah mendorong permintaan terhadap emas, dan tren ini diperkirakan akan berlanjut dalam jangka pendek. Namun, investor harus tetap berhati-hati dan melakukan riset yang cermat sebelum berinvestasi dalam emas, mengingat volatilitas pasar yang melekat. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, investor dapat membuat keputusan yang tepat tentang apakah emas cocok untuk portofolio investasi mereka.

Bagikan:

Cahyono

Fokus pada topik sosial, ekonomi, dan layanan masyarakat dengan gaya penulisan yang to the point.