Jakarta, [Tanggal Sekarang] – Harga emas yang diproduksi oleh UBS (Union Bank of Switzerland) dan Galeri24 di jaringan Pegadaian terpantau mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan pada hari Minggu, 22 Februari 2026. Lonjakan harga ini terjadi di tengah kondisi pasar global yang diliputi ketidakpastian dan sentimen yang beragam, yang memengaruhi pergerakan harga logam mulia secara keseluruhan.

Kenaikan harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian bervariasi, berkisar antara Rp 52.000 hingga Rp 63.000 per gram. Emas UBS kini dihargai Rp 3.061.000 per gram, naik Rp 52.000 dari harga perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp 3.009.000 per gram. Sementara itu, emas Galeri24 mengalami kenaikan yang lebih tinggi, yakni Rp 63.000, sehingga harga jualnya menjadi Rp 3.047.000 per gram dari sebelumnya Rp 2.984.000 per gram.

Perlu dicatat bahwa harga jual emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung pada dinamika pasar dan faktor-faktor lain yang memengaruhi harga emas secara global.

Pegadaian menyediakan emas Galeri24 dalam berbagai pilihan kuantitas, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram), memberikan fleksibilitas bagi investor dengan berbagai tingkat modal. Emas UBS juga tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 500 gram, memberikan pilihan yang beragam bagi para pembeli.

Faktor-Faktor yang Mendorong Kenaikan Harga Emas

Kenaikan harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian sejalan dengan tren kenaikan harga emas global yang terjadi pada hari Jumat, 20 Februari 2026. Pada saat itu, harga emas dunia naik lebih dari 1%, didorong oleh data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Data PDB yang mengecewakan tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi AS, sehingga mendorong investor untuk mencari aset safe-haven seperti emas.

Selain itu, pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai tarif global baru setelah putusan Mahkamah Agung (MA) AS tentang tarif juga memengaruhi sentimen pasar. Ketidakpastian mengenai kebijakan perdagangan AS meningkatkan risiko ekonomi, yang pada gilirannya mendukung harga emas.

Menurut Tai Wong, seorang Independent Metals Trader, ketidakpastian jangka menengah akan terus mendukung harga emas. Ia menambahkan bahwa rencana Trump untuk memberlakukan tarif global 10% selama 150 hari sebagai pengganti beberapa tugas darurat yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS dapat memicu volatilitas pasar.

Dampak Putusan Mahkamah Agung AS terhadap Harga Emas

Mahkamah Agung AS menyatakan ilegal tarif global luas yang diberlakukan oleh Presiden Trump berdasarkan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional. Putusan ini didasarkan pada anggapan bahwa presiden telah melampaui wewenangnya berdasarkan undang-undang tersebut.

Putusan Mahkamah Agung AS ini sempat membuat indeks saham utama Wall Street melonjak pada hari Jumat. Namun, dampak jangka panjang dari putusan ini terhadap pasar masih belum jelas.

Data Ekonomi AS yang Memengaruhi Sentimen Pasar

Data ekonomi AS yang dirilis baru-baru ini memberikan gambaran yang beragam tentang kondisi ekonomi negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi AS melambat tajam menjadi tingkat tahunan 1,4% pada kuartal keempat, jauh di bawah perkiraan ekonom sebesar 3%. Perlambatan ini disebabkan oleh penutupan pemerintah dan penurunan pengeluaran konsumen yang memukul aktivitas ekonomi.

Di sisi lain, indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed), indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi, naik 0,4% pada Desember, di atas ekspektasi kenaikan 0,3%. Data ini menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi perhatian, meskipun pertumbuhan ekonomi melambat.

Menurut Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior RJO Futures, data ekonomi AS yang beragam ini menciptakan ketidakpastian di pasar, yang pada akhirnya mendukung harga emas.

Ekspektasi Pasar terhadap Kebijakan Suku Bunga The Fed

Para pelaku pasar masih mengharapkan dua kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed tahun ini. Pemotongan pertama diperkirakan akan terjadi pada bulan Juni. Ekspektasi pemotongan suku bunga ini juga menjadi faktor pendukung bagi harga emas.

Emas dianggap sebagai aset safe-haven yang menarik ketika ada ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Selain itu, emas juga cenderung berkinerja baik ketika suku bunga rendah, karena biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih rendah.

Pergerakan Harga Logam Mulia Lainnya

Selain emas, harga logam mulia lainnya juga mengalami kenaikan pada hari Jumat. Harga perak spot naik 5,8% menjadi USD 82,92 per ons. Harga platinum spot naik 4,5% menjadi USD 2.163,53, sementara paladium naik 4% menjadi USD 1.751,70.

Kenaikan harga logam mulia lainnya ini menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap aset safe-haven sedang meningkat di pasar.

Kesimpulan

Kenaikan harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian pada hari Minggu, 22 Februari 2026, mencerminkan sentimen pasar yang positif terhadap logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi global. Data ekonomi AS yang beragam, ketidakpastian kebijakan perdagangan, dan ekspektasi pemotongan suku bunga oleh The Fed menjadi faktor-faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas.

Investor yang mencari aset safe-haven dan diversifikasi portofolio dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi pada emas. Namun, penting untuk diingat bahwa harga emas dapat berfluktuasi, dan investor harus melakukan riset yang cermat sebelum membuat keputusan investasi.

Bagikan:

Cahyono

Fokus pada topik sosial, ekonomi, dan layanan masyarakat dengan gaya penulisan yang to the point.