Jakarta, Liputan Ekonomi – PT Pertamina (Persero), perusahaan energi milik negara, secara resmi mengumumkan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi atau BBM umum yang akan mulai berlaku pada tanggal 1 Maret 2026. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap dinamika pasar energi global dan implementasi regulasi pemerintah terkait formula perhitungan harga BBM. Penyesuaian ini tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat, khususnya mengenai dampaknya terhadap daya beli dan stabilitas ekonomi.
Keputusan penyesuaian harga BBM ini didasarkan pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang merupakan perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020. Regulasi ini mengatur tentang formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran BBM umum jenis bensin dan solar yang disalurkan melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Dengan demikian, Pertamina memiliki landasan hukum yang kuat dalam melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi secara berkala.
Secara umum, terdapat variasi harga yang signifikan antar wilayah di Indonesia. Untuk wilayah Jawa, Bali, dan sebagian Sumatera, harga Pertamax akan berada di kisaran Rp 12.300 – Rp 12.900 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo, sebagai varian BBM dengan oktan lebih tinggi, akan dibanderol dengan harga antara Rp 13.100 hingga Rp 13.650 per liter. Untuk jenis bahan bakar diesel, Dexlite akan berada di rentang harga Rp 14.200 – Rp 14.800 per liter, sedangkan Pertamina Dex akan dipasarkan dengan harga Rp 14.500 – Rp 15.100 per liter.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa harga Pertalite dan Biosolar, sebagai BBM bersubsidi yang banyak dikonsumsi masyarakat, tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual dengan harga Rp 10.000 per liter, sementara Biosolar tetap Rp 6.800 per liter. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk tetap menjaga daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, di tengah fluktuasi harga energi global.
Implikasi dan Dampak Penyesuaian Harga BBM
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini tentu saja memiliki implikasi yang luas bagi berbagai sektor ekonomi. Kenaikan harga BBM dapat memicu kenaikan biaya transportasi, yang pada gilirannya dapat berdampak pada harga barang dan jasa lainnya. Hal ini dapat memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki pendapatan tetap.
Namun, di sisi lain, penyesuaian harga BBM juga dapat memberikan dampak positif bagi keuangan negara. Dengan mengurangi subsidi BBM, pemerintah dapat mengalokasikan anggaran tersebut untuk program-program pembangunan yang lebih produktif, seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Selain itu, harga BBM yang lebih tinggi juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih hemat energi dan beralih ke moda transportasi yang lebih efisien.
Daftar Harga BBM Pertamina per Wilayah (1 Maret 2026)
Berikut adalah daftar lengkap harga BBM Pertamina per wilayah yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 2026:
- DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur:
- Pertamax: Rp 12.500 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 13.300 per liter
- Dexlite: Rp 14.500 per liter
- Pertamina Dex: Rp 14.800 per liter
- Bali & NTB:
- Pertamax: Rp 12.700 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 13.500 per liter
- Dexlite: Rp 14.700 per liter
- Pertamina Dex: Rp 15.000 per liter
- Sumatera dan Kalimantan (Aceh & Sumatera Utara):
- Pertamax: Rp 12.300 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 13.100 per liter
- Dexlite: Rp 14.200 per liter
- Pertamina Dex: Rp 14.500 per liter
- Sumatera Barat, Riau, Kepri:
- Pertamax: Rp 12.500 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 13.300 per liter
- Dexlite: Rp 14.500 per liter
- Pertamina Dex: Rp 14.800 per liter
- FTZ Batam:
- Pertamax: Rp 12.000 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 12.800 per liter
- Dexlite: Rp 14.000 per liter
- Pertamina Dex: Rp 14.300 per liter
- Kalimantan Barat, Tengah, Timur:
- Pertamax: Rp 12.600 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 13.400 per liter
- Dexlite: Rp 14.600 per liter
- Pertamina Dex: Rp 14.900 per liter
- Kalimantan Selatan & Utara:
- Pertamax: Rp 12.700 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 13.500 per liter
- Dexlite: Rp 14.700 per liter
- Pertamina Dex: Rp 15.000 per liter
- Sulawesi (Utara, Tengah, Selatan, Tenggara, Barat, Gorontalo):
- Pertamax: Rp 12.800 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 13.600 per liter
- Dexlite: Rp 14.800 per liter
- Pertamina Dex: Rp 15.100 per liter
- Maluku & Maluku Utara:
- Pertamax: Rp 12.900 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 13.700 per liter
- Dexlite: Rp 14.900 per liter
- Pertamina Dex: Rp 15.200 per liter
- Papua dan Papua Barat:
- Pertamax: Rp 12.900 per liter
- Pertamax Turbo: Rp 13.700 per liter
- Dexlite: Rp 14.900 per liter
- Pertamina Dex: Rp 15.200 per liter
Perlu diingat bahwa harga di wilayah Free Trade Zone (FTZ) seperti Sabang dan Batam mungkin berbeda dengan harga yang tertera di atas.
Strategi Pertamina Menjaga Ketersediaan Energi Nasional
Di tengah dinamika pasar energi global dan penyesuaian harga BBM, Pertamina memiliki peran krusial dalam menjaga ketersediaan energi nasional. Perusahaan ini memiliki sejumlah strategi untuk memastikan pasokan BBM tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
Salah satu strategi utama Pertamina adalah dengan meningkatkan produksi minyak dan gas bumi dari dalam negeri. Dengan meningkatkan produksi domestik, Pertamina dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meminimalkan dampak fluktuasi harga energi global. Selain itu, Pertamina juga terus berinvestasi dalam pengembangan energi baru dan terbarukan, seperti biofuel dan energi surya, untuk mengurangi emisi karbon dan menciptakan sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, Pertamina juga berupaya meningkatkan efisiensi distribusi BBM melalui digitalisasi dan modernisasi infrastruktur. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, Pertamina dapat memantau stok BBM secara real-time dan mengoptimalkan pengiriman ke seluruh wilayah Indonesia. Hal ini dapat mengurangi biaya logistik dan memastikan BBM tersedia tepat waktu di setiap SPBU.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Penyesuaian harga BBM merupakan tantangan yang kompleks bagi pemerintah dan masyarakat. Di satu sisi, pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan keuangan negara tetap sehat dan mampu membiayai program-program pembangunan yang penting.
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah perlu mengambil kebijakan yang komprehensif dan berkelanjutan. Pemerintah perlu meningkatkan efisiensi energi, mendorong penggunaan transportasi publik, dan memberikan subsidi yang tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, pemerintah juga perlu terus berinvestasi dalam pengembangan energi baru dan terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Dengan kerjasama yang baik antara pemerintah, Pertamina, dan masyarakat, Indonesia dapat menghadapi tantangan penyesuaian harga BBM dengan sukses dan menciptakan masa depan energi yang lebih berkelanjutan.
Semoga penulisan ulang artikel ini sesuai dengan harapan Anda.





