Menjelang perayaan Lebaran 2026, dunia fesyen muslim perempuan di Indonesia kembali diramaikan dengan munculnya sebuah tren baru yang menarik perhatian: "baju binor." Istilah yang mungkin terdengar unik ini merujuk pada gaya busana muslim yang terinspirasi oleh sosok publik figur, Inara Rusli. Gaya berpakaian yang feminin, anggun, dan romantis ini tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan ekonomi di sektor modest fashion.

Tren "baju binor" ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta mode muslim, dan banyak yang penasaran dengan asal-usul serta karakteristiknya. Istilah "binor" sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari "bini orang," yang dalam konteks ini mengacu pada gaya berpakaian seorang istri. Namun, perlu digarisbawahi bahwa tren ini tidak memiliki konotasi negatif atau merendahkan. Sebaliknya, "baju binor" justru menjadi simbol dari keanggunan, kelembutan, dan pesona seorang wanita muslimah.

Franka Soeria, seorang spesialis modest fashion dan co-founder Markamarie, menjelaskan bahwa tren "baju binor" muncul sebagai fenomena musiman yang dipicu oleh figur publik tertentu, dalam hal ini Inara Rusli. Ia membandingkan fenomena ini dengan tren mukena Syahrini yang sempat mendominasi Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya. Menurut Franka, tren semacam ini selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang gemar mengikuti perkembangan mode.

"Untuk ‘binor’ memang lagi tren karena sosok tertentu, ya, seperti Inara Rusli. Ini mirip Lebaran sebelumnya, saat ada tren mukena Syahrini dan lainnya," ujar Franka kepada Liputan6.com. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa peran seorang tokoh publik sangat berpengaruh dalam menciptakan dan mempopulerkan sebuah tren fesyen.

Lantas, apa saja karakteristik yang membedakan "baju binor" dari gaya busana muslim lainnya? Menurut Franka, tren ini menonjolkan gaya feminin yang lembut dan romantis. Beberapa ciri khasnya antara lain:

  • Detail Lengan Berkaret: Lengan baju biasanya didesain dengan detail karet yang memberikan kesan mengembang dan menyerupai gaun putri. Detail ini menambah sentuhan feminin dan elegan pada tampilan keseluruhan.
  • Penggunaan Bahan Bertekstur: Bahan-bahan yang digunakan dalam "baju binor" seringkali memiliki tekstur yang unik dan menarik. Beberapa di antaranya bahkan menggunakan sentuhan transparan seperti tulle atau kain menerawang, yang memberikan kesan anggun dan mewah.
  • Dominasi Warna Putih dan Pastel: Warna-warna yang mendominasi tren ini adalah putih dan pastel. Warna-warna lembut ini memberikan kesan bersih, anggun, dan menenangkan.
  • Model yang Flowy dan Longgar: "Baju binor" biasanya memiliki model yang flowy dan longgar, sehingga nyaman dipakai dan tidak membentuk lekuk tubuh. Model seperti ini sesuai dengan prinsip-prinsip berpakaian muslimah yang sopan dan santun.
  • Aplikasi Detail Renda dan Payet: Beberapa desain "baju binor" juga dilengkapi dengan detail renda dan payet yang menambah kesan mewah dan elegan. Detail-detail ini biasanya diaplikasikan pada bagian kerah, lengan, atau bagian bawah baju.

Sebagai tren Lebaran pada umumnya, kemunculan "baju binor" turut mendongkrak omzet pelaku usaha fesyen muslim. Banyak toko, baik online maupun offline, berlomba menghadirkan koleksi serupa demi menangkap permintaan pasar. Para desainer dan produsen busana muslim dengan cepat merespons tren ini dengan menciptakan berbagai macam model "baju binor" yang sesuai dengan selera dan kebutuhan konsumen.

"Tren Lebaran itu selalu bisa menaikkan omzet. Makanya hampir semua toko baju coba jual produk ‘binor’ ini," kata Franka. Pernyataan ini menunjukkan bahwa tren fesyen Lebaran memiliki potensi ekonomi yang besar bagi para pelaku usaha di sektor ini.

Namun, di tengah kondisi ekonomi masyarakat saat ini, konsumen dinilai semakin rasional dalam berbelanja. Harga menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian. Menurut Franka, tren fesyen yang sifatnya sementara membuat pembeli enggan mengeluarkan biaya besar untuk membeli pakaian yang mahal.

"Kalau beli baju yang lagi tren, enggak harus mahal. Karena trennya cepat selesai dan dianggap enggak dipakai jangka panjang. Biasanya konsumen pilih yang murah," jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen semakin cerdas dan bijak dalam berbelanja. Mereka lebih memilih untuk membeli pakaian yang terjangkau namun tetap sesuai dengan tren yang sedang berlangsung.

Franka menambahkan, tak sedikit konsumen yang membeli lebih dari satu potong pakaian agar tetap terlihat up to date selama tren berlangsung, namun tetap dengan harga yang terjangkau. Strategi ini memungkinkan konsumen untuk tetap mengikuti tren tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.

Fenomena "baju binor" ini juga menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran yang sangat penting dalam mempopulerkan sebuah tren fesyen. Dengan adanya platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook, informasi tentang tren "baju binor" dapat dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara. Para influencer dan selebriti juga turut berperan dalam mempromosikan tren ini dengan mengenakan "baju binor" dalam berbagai kesempatan.

Namun, di balik popularitasnya, tren "baju binor" juga menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Beberapa orang menganggap bahwa tren ini terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kesederhanaan dalam berpakaian muslimah. Mereka berpendapat bahwa "baju binor" lebih menonjolkan unsur fashion daripada esensi dari berpakaian muslimah yang seharusnya lebih fokus pada kesopanan dan kesantunan.

Di sisi lain, ada juga yang mendukung tren ini dan menganggapnya sebagai bentuk ekspresi diri dan kreativitas dalam berbusana. Mereka berpendapat bahwa "baju binor" dapat menjadi inspirasi bagi wanita muslimah untuk tampil lebih percaya diri, anggun, dan modis tanpa harus melanggar aturan agama.

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, tren "baju binor" tetap menjadi fenomena yang menarik untuk diamati. Tren ini menunjukkan bahwa dunia fesyen muslim di Indonesia terus berkembang dan berinovasi. Para desainer dan produsen busana muslim semakin kreatif dalam menciptakan desain-desain yang modern, stylish, dan tetap sesuai dengan prinsip-prinsip agama.

Selain itu, tren "baju binor" juga memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, khususnya di sektor modest fashion. Dengan semakin banyaknya orang yang tertarik untuk membeli "baju binor," omzet para pelaku usaha di sektor ini pun meningkat. Hal ini tentu saja memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi negara.

Sebagai kesimpulan, fenomena "baju binor" merupakan tren busana muslim Lebaran 2026 yang terinspirasi oleh Inara Rusli dan memberikan dampak yang signifikan terhadap ekonomi fashion. Tren ini menonjolkan gaya feminin yang lembut dan romantis, dengan ciri khas detail lengan berkaret, penggunaan bahan bertekstur, dan dominasi warna putih dan pastel. Meskipun menuai pro dan kontra, tren "baju binor" tetap menjadi bukti bahwa dunia fesyen muslim di Indonesia terus berkembang dan berinovasi. Para konsumen pun semakin cerdas dan rasional dalam berbelanja, memilih pakaian yang terjangkau namun tetap sesuai dengan tren yang sedang berlangsung.

Bagikan:

Cahyono

Fokus pada topik sosial, ekonomi, dan layanan masyarakat dengan gaya penulisan yang to the point.