Jakarta – Pasar emas dalam negeri menunjukkan tren positif di awal tahun 2026, dengan harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kenaikan signifikan. Pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, harga emas Antam melonjak sebesar Rp 28.000 per gram, sebuah indikasi kuat dari sentimen pasar yang bullish terhadap aset safe-haven ini. Kenaikan ini menjadi sorotan utama di kalangan investor dan pengamat ekonomi, memicu diskusi tentang faktor-faktor yang mendorong penguatan harga emas dan prospek investasi di tengah dinamika ekonomi global.
Menurut data dari laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam pada tanggal tersebut mencapai Rp 2.944.000 per gram, naik dari posisi sebelumnya sebesar Rp 2.916.000 per gram pada hari Kamis. Kenaikan ini menggarisbawahi daya tarik emas sebagai instrumen investasi yang stabil di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi pasar keuangan lainnya.
Tidak hanya harga jual, harga buyback emas Antam juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada hari yang sama, harga buyback emas Antam naik sebesar Rp 31.000, mencapai Rp 2.725.000 per gram. Harga buyback ini merupakan acuan penting bagi investor yang ingin menjual kembali emas mereka ke Antam, dan kenaikan ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap emas tetap tinggi, baik dari sisi pembelian maupun penjualan.
Perlu dicatat bahwa harga emas Antam telah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada tanggal 29 Januari 2026, mencapai Rp 3.168.000 per gram. Sementara itu, harga buyback tertinggi tercatat sebesar Rp 2.989.000 per gram. Rekor ini menunjukkan potensi emas sebagai aset yang mampu memberikan keuntungan signifikan bagi investor dalam jangka waktu tertentu.
Faktor-faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas
Beberapa faktor dapat diidentifikasi sebagai pendorong utama kenaikan harga emas Antam pada awal tahun 2026. Pertama, ketidakpastian ekonomi global, termasuk kekhawatiran tentang inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, mendorong investor untuk mencari aset safe-haven seperti emas. Emas secara tradisional dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan gejolak ekonomi, sehingga permintaannya cenderung meningkat pada saat-saat ketidakpastian.
Kedua, kebijakan moneter yang akomodatif dari bank sentral di berbagai negara juga dapat berkontribusi terhadap kenaikan harga emas. Suku bunga yang rendah atau bahkan negatif membuat emas menjadi lebih menarik dibandingkan dengan aset-aset berbunga seperti obligasi. Selain itu, program stimulus ekonomi yang diluncurkan oleh pemerintah juga dapat meningkatkan likuiditas di pasar, yang pada akhirnya dapat mengalir ke aset-aset seperti emas.
Ketiga, faktor geopolitik juga dapat memainkan peran dalam mempengaruhi harga emas. Konflik atau ketegangan politik di berbagai belahan dunia dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset yang aman di tengah ketidakpastian.
Prospek Investasi Emas di Tahun 2026
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang telah disebutkan, prospek investasi emas di tahun 2026 terlihat cukup menjanjikan. Meskipun harga emas telah mengalami kenaikan yang signifikan, masih ada potensi untuk pertumbuhan lebih lanjut, terutama jika ketidakpastian ekonomi global terus berlanjut.
Namun, investor juga perlu mempertimbangkan beberapa risiko yang terkait dengan investasi emas. Harga emas dapat berfluktuasi secara signifikan dalam jangka pendek, tergantung pada sentimen pasar dan faktor-faktor eksternal lainnya. Oleh karena itu, penting untuk memiliki strategi investasi yang jelas dan diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko.
Selain itu, investor juga perlu memperhatikan biaya penyimpanan dan asuransi emas fisik, serta biaya transaksi yang terkait dengan pembelian dan penjualan emas. Investasi emas digital atau reksa dana emas dapat menjadi alternatif yang lebih efisien bagi investor yang ingin menghindari biaya-biaya tersebut.
Dampak Kesepakatan Dagang Indonesia-AS terhadap Ekonomi Nasional
Selain dinamika pasar emas, artikel asli juga menyoroti dua berita penting lainnya terkait perekonomian Indonesia, yaitu kesepakatan dagang tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), serta dampaknya terhadap sektor tekstil.
Kesepakatan dagang tarif resiprokal antara Indonesia dan AS dipandang sebagai langkah positif yang dapat meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi kedua negara. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan bahwa kesepakatan ini dapat menjadi tonggak penting dalam hubungan ekonomi Indonesia-AS, serta mendorong peningkatan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.
Kesepakatan ini juga memberikan manfaat signifikan bagi sektor tekstil Indonesia, dengan AS memberikan tarif impor nol persen untuk produk tekstil dan pakaian jadi asal Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa kebijakan ini akan memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor tekstil, serta meningkatkan nilai ekspor tekstil Indonesia hingga 10 kali lipat dalam 10 tahun mendatang.
Kesimpulan
Kenaikan harga emas Antam pada awal tahun 2026 mencerminkan sentimen pasar yang bullish terhadap aset safe-haven ini di tengah ketidakpastian ekonomi global. Prospek investasi emas di tahun 2026 terlihat menjanjikan, meskipun investor perlu mempertimbangkan risiko dan biaya yang terkait dengan investasi emas.
Selain itu, kesepakatan dagang tarif resiprokal antara Indonesia dan AS memberikan harapan baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama di sektor tekstil. Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan dari pemerintah, sektor tekstil Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan ekspor dan menciptakan lapangan kerja.
Secara keseluruhan, kondisi perekonomian Indonesia di awal tahun 2026 menunjukkan tanda-tanda positif, dengan potensi pertumbuhan yang didorong oleh investasi, perdagangan, dan sektor-sektor unggulan seperti tekstil. Namun, tantangan dan risiko tetap ada, dan penting bagi pemerintah dan pelaku ekonomi untuk terus berupaya meningkatkan daya saing dan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.





