Jakarta, Indonesia – Harga emas mengalami penurunan pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta), mengakhiri reli yang sempat membawa logam mulia ini ke level tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Koreksi harga ini dipicu oleh kombinasi faktor, termasuk aksi ambil untung oleh para investor setelah kenaikan sebelumnya, serta penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Namun, di tengah tekanan penurunan ini, sentimen geopolitik yang masih membara, terutama terkait dengan ketegangan antara AS dan Iran, serta ketidakpastian seputar kebijakan tarif AS, terus memberikan dukungan fundamental terhadap harga emas. Para analis pasar memperkirakan bahwa permintaan terhadap aset safe haven seperti emas akan tetap kuat, setidaknya dalam jangka pendek, mengingat risiko-risiko global yang masih membayangi.
Detail Pergerakan Harga Emas
Pada perdagangan spot, harga emas turun sebesar 1,4% menjadi USD 5.158,24 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup 0,9% lebih rendah pada level USD 5.176,30. Penurunan ini merupakan respons terhadap beberapa faktor yang saling terkait.
Salah satu faktor utama adalah penguatan dolar AS. Indeks dolar, yang mengukur nilai tukar dolar terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, naik sebesar 0,1%. Kenaikan ini membuat emas, yang dihargakan dalam dolar AS, menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Akibatnya, permintaan terhadap emas cenderung menurun, yang kemudian menekan harga.
Selain itu, aksi ambil untung juga memainkan peran penting dalam koreksi harga emas. Setelah mengalami kenaikan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir, banyak investor memutuskan untuk merealisasikan keuntungan mereka dengan menjual kepemilikan emas mereka. Aksi jual ini menciptakan tekanan jual yang lebih besar di pasar, yang pada akhirnya menyebabkan harga turun.
Analisis Pasar dan Pandangan Ahli
Jim Wyckoff, Analis Senior di Kitco Metals, berpendapat bahwa koreksi harga emas ini bersifat sementara. Menurutnya, tren kenaikan harga emas sebelumnya masih cukup kuat, dan penurunan ini hanyalah sebuah koreksi alami setelah periode kenaikan yang cepat.
"Harga emas (sebelumnya) kembali cenderung naik, jadi saya menduga ini hanyalah koreksi sementara," kata Wyckoff. Dia juga menambahkan bahwa penguatan dolar AS memberikan dampak negatif terhadap harga emas.
Wyckoff juga menyoroti pentingnya sentimen geopolitik dalam mendukung harga emas. Ketegangan antara AS dan Iran, serta ketidakpastian seputar kebijakan tarif AS, terus mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Kebijakan Tarif AS dan Dampaknya
Pada awal sesi perdagangan hari Selasa, harga emas sempat mencapai level tertinggi dalam tiga minggu terakhir setelah Presiden AS Donald Trump berjanji untuk menaikkan bea masuk menjadi 15%. Namun, janji ini kemudian dibatalkan, dan AS memberlakukan tarif 10% untuk semua barang yang tidak dikecualikan, seperti yang pertama kali diumumkan oleh Trump pada hari Jumat sebelumnya.
Ketidakpastian seputar kebijakan tarif AS ini telah menciptakan volatilitas di pasar keuangan global, termasuk pasar emas. Para investor khawatir bahwa perang dagang yang berkepanjangan antara AS dan negara-negara lain dapat merusak pertumbuhan ekonomi global dan meningkatkan risiko resesi. Dalam situasi seperti ini, emas sering dianggap sebagai aset yang aman, karena nilainya cenderung bertahan atau bahkan meningkat selama periode ketidakpastian ekonomi.
Pembicaraan Nuklir Iran dan Implikasinya
Sementara itu, Iran dan AS akan mengadakan putaran ketiga pembicaraan nuklir pada hari Kamis di Jenewa. Pembicaraan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015, yang telah ditinggalkan oleh AS pada tahun 2018.
Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, dan ada kekhawatiran tentang risiko konflik militer antara kedua negara. Jika konflik pecah, harga emas diperkirakan akan melonjak, karena investor akan mencari perlindungan di aset safe haven.
Prospek Harga Emas ke Depan
Melihat ke depan, prospek harga emas diperkirakan akan tetap bergantung pada beberapa faktor utama, termasuk kebijakan moneter bank sentral global, sentimen geopolitik, dan kinerja ekonomi global.
Jika bank sentral global, seperti Federal Reserve AS, terus mempertahankan kebijakan moneter yang longgar, harga emas cenderung akan mendapat dukungan. Suku bunga yang rendah dan likuiditas yang melimpah cenderung mendorong inflasi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Selain itu, sentimen geopolitik juga akan terus memainkan peran penting dalam menentukan harga emas. Jika ketegangan antara AS dan Iran meningkat, atau jika terjadi konflik geopolitik lainnya, harga emas diperkirakan akan melonjak.
Namun, jika ekonomi global terus tumbuh dengan kuat, dan jika tidak ada guncangan geopolitik yang signifikan, harga emas mungkin akan mengalami tekanan penurunan. Pertumbuhan ekonomi yang kuat cenderung mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, karena investor akan lebih cenderung berinvestasi pada aset-aset yang lebih berisiko, seperti saham.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, harga emas saat ini berada dalam posisi yang menarik. Meskipun menghadapi tekanan penurunan akibat penguatan dolar AS dan aksi ambil untung, logam mulia ini masih didukung oleh sentimen geopolitik yang kuat dan ketidakpastian seputar kebijakan tarif AS.
"Permintaan akan aset aman masih kuat, dengan ketegangan Iran-AS dan ketidakpastian tarif yang membatasi penjualan emas, sehingga fundamental tetap mendukung. Namun, ketika harga mendekati rekor tertinggi, harga akan menghadapi resistensi yang kuat, dan mendorong ke level tertinggi baru kemungkinan akan membutuhkan katalis geopolitik baru," kata Wyckoff.
Para investor perlu memantau dengan cermat perkembangan-perkembangan di pasar keuangan global dan berita geopolitik untuk membuat keputusan investasi yang tepat terkait dengan emas. Emas tetap menjadi aset penting dalam diversifikasi portofolio, terutama dalam lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian.





