Di tengah gemerlap kembang api yang mewarnai langit perayaan, khususnya saat Imlek dan perayaan besar lainnya di China, industri kembang api negara tersebut tengah menghadapi persimpangan jalan yang kompleks. Meskipun tradisi membakar kembang api telah mengakar kuat dalam budaya China selama berabad-abad, industri ini harus berjuang melawan tantangan ekonomi yang signifikan, perubahan preferensi konsumen, regulasi yang semakin ketat, dan kebutuhan untuk berinovasi agar tetap relevan di pasar global.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Liuyang, sebuah kota di Provinsi Hunan, sering disebut sebagai ibu kota kembang api dunia. Lebih dari seribu tahun lalu, kota ini telah menjadi pusat produksi kembang api, dan saat ini, Liuyang bertanggung jawab atas sekitar 60% kembang api yang dijual di China dan 70% dari ekspor kembang api negara tersebut. Industri ini telah menjadi sumber mata pencaharian utama bagi penduduk setempat, diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, beberapa tahun terakhir telah menghadirkan tantangan baru bagi industri kembang api Liuyang. Setelah mengalami lonjakan permintaan pasca-pandemi COVID-19 pada tahun 2023, dengan nilai produksi melonjak lebih dari 60% menjadi 50,8 miliar yuan (sekitar USD 7,3 miliar), industri ini kini menghadapi penurunan konsumsi domestik. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perlambatan ekonomi secara keseluruhan di China, perubahan preferensi konsumen yang semakin beralih ke bentuk hiburan lain, dan regulasi yang lebih ketat terkait penggunaan kembang api di kota-kota besar.
Melissa Cai, Manajer Penjualan AS di Pyoroshine, sebuah perusahaan kembang api, mencatat bahwa meskipun penjualan ekspor tetap stabil, pesanan domestik telah menurun secara signifikan dalam dua tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pasar luar negeri menjadi semakin penting bagi kelangsungan hidup industri kembang api China.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh produsen kembang api China adalah tarif tinggi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. Tarif ini telah memaksa perusahaan untuk menarik kembali pesanan dalam jumlah besar dari pelabuhan, sehingga mengurangi keuntungan dan meningkatkan ketidakpastian di pasar. Meskipun demikian, banyak perusahaan kembang api China telah berhasil mengatasi tantangan ini dengan mencari pasar alternatif dan berfokus pada inovasi produk.
Selain tantangan ekonomi, industri kembang api China juga harus beradaptasi dengan perubahan regulasi. Selama bertahun-tahun, banyak kota di China telah memberlakukan larangan atau pembatasan ketat terhadap penggunaan kembang api karena masalah keselamatan dan polusi. Namun, pada tahun 2024, pemerintah pusat mulai melonggarkan beberapa pembatasan ini dalam upaya untuk mendorong pengeluaran domestik dan menghidupkan kembali tradisi budaya.
Pelonggaran regulasi ini telah memberikan dorongan bagi industri kembang api, tetapi juga menimbulkan tantangan baru. Produsen kembang api harus memastikan bahwa produk mereka memenuhi standar keselamatan yang ketat dan bahwa mereka diproduksi dengan cara yang ramah lingkungan. Mereka juga harus berinvestasi dalam teknologi baru dan proses produksi untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko kecelakaan.
Li Shijie, manajer generasi kelima dari Zhongzhou Fireworks, menekankan pentingnya inovasi dan modernisasi bagi kelangsungan hidup industri kembang api. Dia mencatat bahwa preferensi estetika masyarakat terus berkembang, sehingga membutuhkan peningkatan teknologi dan branding. Perusahaannya telah mulai bereksperimen dengan mengintegrasikan drone ke dalam pertunjukan kembang api dan menciptakan produk baru yang memenuhi kebutuhan pasar yang berbeda.
Selain inovasi produk, perusahaan kembang api China juga perlu berinvestasi dalam pemasaran dan branding. Mereka harus membangun merek yang kuat yang dikenal karena kualitas, keamanan, dan inovasi. Mereka juga harus memanfaatkan media sosial dan platform digital lainnya untuk menjangkau konsumen baru dan membangun hubungan dengan pelanggan yang ada.
Industri kembang api China juga menghadapi tantangan terkait keselamatan kerja. Kecelakaan fatal di pabrik kembang api masih menjadi risiko yang signifikan, dan perusahaan harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa pekerja mereka dilatih dengan benar dan bahwa mereka bekerja di lingkungan yang aman. Pemerintah juga perlu menegakkan regulasi keselamatan dengan ketat dan memberikan insentif bagi perusahaan untuk berinvestasi dalam keselamatan kerja.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, industri kembang api China tetap menjadi bagian penting dari budaya dan ekonomi negara tersebut. Dengan beradaptasi dengan perubahan pasar, berinvestasi dalam inovasi, dan memprioritaskan keselamatan kerja, industri ini dapat memastikan bahwa mereka akan terus memberikan kegembiraan dan keajaiban bagi orang-orang di seluruh dunia selama bertahun-tahun yang akan datang.
Sebagai kesimpulan, industri kembang api di China berada di persimpangan jalan. Untuk bertahan dan berkembang, industri ini harus mengatasi tantangan ekonomi, beradaptasi dengan regulasi baru, berinvestasi dalam inovasi dan keselamatan, serta membangun merek yang kuat. Dengan melakukan hal ini, industri kembang api China dapat memastikan bahwa tradisi kuno ini akan terus hidup dan mewarnai langit dengan gemerlapnya selama bertahun-tahun yang akan datang. Ini bukan hanya bisnis, tetapi juga warisan budaya yang berharga yang perlu dilestarikan dan diadaptasi dengan perkembangan zaman.





