Jakarta – Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) mengambil langkah signifikan dalam upaya transformasi dan restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan melantik puluhan pejabat tinggi. Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, secara resmi mengukuhkan enam pejabat eselon I dan 21 pejabat eselon II dalam sebuah acara pelantikan yang menandai babak baru dalam pengelolaan dan pengembangan BUMN di Indonesia. Pelantikan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa proses transformasi BUMN berjalan efektif dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Dony Oskaria dalam sambutannya menekankan pentingnya komitmen, kerja keras, konsistensi, dan pengorbanan dari para pejabat yang baru dilantik. Ia mengingatkan bahwa jabatan yang diemban bukanlah kesempatan untuk menikmati fasilitas dan kekuasaan, melainkan sebuah amanah untuk bekerja lebih keras dan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Transformasi BUMN, menurutnya, membutuhkan perubahan paradigma dan budaya kerja yang signifikan. Hal-hal yang selama ini dianggap kurang efektif dan efisien harus ditinggalkan, dan perubahan yang dilakukan harus benar-benar terwujud secara nyata, bukan sekadar retorika belaka.
Pelantikan ini juga menjadi momentum untuk mempertegas peran BP BUMN dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dalam ekosistem BUMN. Kedua lembaga ini memiliki peran yang saling melengkapi, terutama dalam proses pengelolaan strategis BUMN. BP BUMN bertugas untuk melakukan pengaturan, pengawasan, dan evaluasi terhadap kinerja BUMN, sementara Danantara berperan sebagai pengelola investasi yang berfokus pada peningkatan nilai dan daya saing BUMN. Sinergi antara kedua lembaga ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem BUMN yang lebih sehat, efisien, dan berdaya saing global.
Salah satu agenda utama yang menjadi fokus BP BUMN adalah program streamlining BUMN. Saat ini, jumlah entitas BUMN di Indonesia mencapai lebih dari 1.000 perusahaan. Jumlah ini dinilai terlalu banyak dan menyebabkan inefisiensi dalam pengelolaan dan koordinasi. Oleh karena itu, BP BUMN berencana untuk mengurangi jumlah entitas BUMN menjadi 200-300 perusahaan melalui berbagai aksi korporasi seperti merger, divestasi, likuidasi, dan restrukturisasi.
Proses streamlining ini merupakan restrukturisasi korporasi terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia. Dony Oskaria menyadari bahwa tugas ini tidaklah mudah dan membutuhkan kerja keras, kedisiplinan, dan kerja sama yang kuat dari seluruh jajaran. Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap tahapan proses restrukturisasi. Tujuannya adalah untuk menciptakan BUMN yang lebih fokus, efisien, dan mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional.
Selain streamlining, BP BUMN juga akan fokus pada peningkatan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG) di seluruh BUMN. Penerapan GCG yang baik akan meningkatkan kepercayaan investor, mengurangi risiko korupsi, dan meningkatkan kinerja BUMN secara keseluruhan. BP BUMN akan melakukan evaluasi secara berkala terhadap penerapan GCG di setiap BUMN dan memberikan rekomendasi perbaikan jika diperlukan.
Transformasi BUMN juga mencakup pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. BP BUMN akan bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan para karyawan BUMN. Program pelatihan akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing BUMN dan fokus pada pengembangan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan bisnis.
Dony Oskaria juga menyoroti pentingnya inovasi dan digitalisasi dalam transformasi BUMN. Ia mendorong seluruh BUMN untuk memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperluas jangkauan pasar, dan menciptakan produk dan layanan baru yang inovatif. BP BUMN akan memberikan dukungan dan fasilitas bagi BUMN yang ingin mengembangkan inovasi dan digitalisasi.
Dalam konteks persaingan global yang semakin ketat, BUMN harus mampu beradaptasi dengan cepat dan mengambil peluang yang ada. Transformasi BUMN bukan hanya sekadar perubahan internal, tetapi juga perubahan mindset dan budaya kerja. BUMN harus menjadi organisasi yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada pelanggan.
Pelantikan pejabat baru di BP BUMN merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan besar yang akan dilakukan dalam rangka transformasi BUMN. Proses ini membutuhkan dukungan dari seluruh pihak, termasuk pemerintah, DPR, masyarakat, dan tentu saja seluruh karyawan BUMN. Dengan kerja sama yang solid dan komitmen yang kuat, transformasi BUMN diharapkan dapat berjalan sukses dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara.
Keberhasilan transformasi BUMN akan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan. BUMN yang sehat dan efisien akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penerimaan negara, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, BUMN juga dapat menjadi agen pembangunan yang berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dony Oskaria optimis bahwa dengan dukungan dan kerja sama dari seluruh pihak, transformasi BUMN dapat berjalan sukses dan memberikan manfaat yang signifikan bagi Indonesia. Ia mengajak seluruh pejabat yang baru dilantik untuk bekerja keras, berdedikasi, dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. "Mari kita wujudkan BUMN yang kuat, efisien, dan berdaya saing global," pungkasnya.





