Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar AS, selalu menjadi topik hangat yang menyita perhatian publik dan para pelaku ekonomi. Dinamika pergerakan rupiah tidak hanya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, tetapi juga sensitif terhadap berbagai sentimen global dan domestik. Dalam konteks ini, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% memicu berbagai pertanyaan dan analisis mengenai dampaknya terhadap stabilitas rupiah dan prospek ekonomi secara keseluruhan.
Faisal Rachman, Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, memberikan pandangan yang komprehensif mengenai tantangan yang dihadapi rupiah di tahun 2026. Dalam sebuah konferensi pers daring, Faisal mengingatkan bahwa rupiah masih berpotensi mengalami tekanan, terutama jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara Asia Pasifik lainnya. Tekanan ini tidak hanya bersumber dari faktor eksternal, seperti kebijakan moneter negara maju dan ketidakpastian geopolitik, tetapi juga dari faktor internal yang berkaitan dengan kondisi ekonomi dan politik dalam negeri.
Faktor Global: Ancaman yang Tak Bisa Diabaikan
Kondisi global memang menjadi salah satu penentu utama pergerakan nilai tukar. Kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) misalnya, dapat memicu aliran modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang pada gilirannya dapat menekan nilai tukar rupiah. Selain itu, ketegangan geopolitik, perang dagang, dan perlambatan ekonomi global juga dapat menciptakan sentimen negatif di pasar keuangan dan memicu aksi jual terhadap aset-aset berisiko, termasuk rupiah.
Namun, Faisal menekankan bahwa perbaikan kondisi global dapat memberikan angin segar bagi rupiah. Jika ekonomi global tumbuh lebih kuat dari perkiraan, dan tensi geopolitik mereda, maka sentimen investor terhadap aset-aset negara berkembang dapat membaik, sehingga mendorong penguatan rupiah. Meskipun demikian, Faisal mengingatkan bahwa penguatan rupiah yang berkelanjutan tidak bisa hanya bergantung pada faktor eksternal.
Faktor Domestik: Kunci Stabilitas Rupiah Jangka Panjang
Faisal menyoroti bahwa rupiah memiliki karakteristik unik karena sangat dipengaruhi oleh faktor domestik. Oleh karena itu, menjaga stabilitas rupiah bukan hanya menjadi tugas BI, tetapi juga membutuhkan dukungan dari pemerintah dan seluruh elemen bangsa.
Salah satu faktor domestik yang krusial adalah stabilitas politik. Ketidakpastian politik dapat menciptakan kekhawatiran di kalangan investor dan memicu aksi jual terhadap aset-aset Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga stabilitas politik dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Selain itu, komunikasi kebijakan yang efektif juga sangat penting. Pemerintah dan BI perlu menyampaikan informasi yang jelas dan transparan mengenai kebijakan ekonomi yang diambil, sehingga dapat mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan kepercayaan investor.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah perbaikan outlook ekonomi. Jika ekonomi Indonesia tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan, maka investor akan lebih tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia, yang pada gilirannya dapat mendukung penguatan rupiah. Pemerintah perlu terus berupaya untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia, menarik investasi asing, dan menciptakan lapangan kerja baru.
Dampak Keputusan BI Menahan Suku Bunga
Keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan di level 4,75% memiliki implikasi yang kompleks terhadap perekonomian. Di satu sisi, keputusan ini dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Di sisi lain, keputusan ini juga dapat membatasi ruang bagi pertumbuhan ekonomi, karena suku bunga yang tinggi dapat menghambat investasi dan konsumsi.
Faisal berpendapat bahwa keputusan BI menahan suku bunga membuka peluang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit secara bertahap. Penurunan suku bunga kredit dapat mendorong investasi dan konsumsi, sehingga dapat membantu memacu pertumbuhan ekonomi. Namun, Faisal mengingatkan bahwa penurunan suku bunga kredit tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Perbankan perlu selektif dalam memberikan kredit dan memperhatikan kualitas debitur serta permintaan kredit.
Peran Pemerintah dalam Mendukung Stabilitas Rupiah
Faisal menekankan bahwa menjaga stabilitas rupiah bukan hanya tugas BI, tetapi juga membutuhkan peran aktif dari pemerintah. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing ekonomi, menarik investasi asing, dan menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, pemerintah juga perlu menjaga stabilitas politik dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Jika risiko domestik dapat ditekan dan sentimen investor membaik, maka risk premium aset Indonesia akan turun. Hal ini akan membantu menahan tekanan terhadap rupiah dan mendukung iklim investasi ke depan.
Prospek Rupiah di Tahun 2026
Melihat berbagai faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah, Faisal memberikan proyeksi yang hati-hati mengenai prospek rupiah di tahun 2026. Ia memperkirakan bahwa rupiah masih berpotensi mengalami tekanan, tetapi penguatan juga terbuka jika kondisi global dan domestik membaik.
Faisal menekankan bahwa kunci untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi adalah koordinasi yang erat antara BI dan pemerintah. BI perlu terus menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan, sementara pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing ekonomi dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Dengan koordinasi yang baik dan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat mengatasi tantangan yang dihadapi dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Kesimpulan
Stabilitas nilai tukar rupiah merupakan faktor penting bagi stabilitas ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Di tengah ketidakpastian global dan tantangan domestik, menjaga stabilitas rupiah membutuhkan koordinasi yang erat antara BI dan pemerintah, serta dukungan dari seluruh elemen bangsa. Dengan kebijakan yang tepat dan implementasi yang efektif, Indonesia dapat mengatasi tantangan yang dihadapi dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Prospek Rupiah di tahun 2026 bergantung pada bagaimana Indonesia mengelola faktor-faktor global dan domestik yang mempengaruhinya.





