Jakarta – Rupiah memulai perdagangan hari ini, Selasa, 24 Februari 2026, dengan tekanan yang cukup signifikan. Data pasar menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah mengalami pelemahan, bergerak turun 33 poin atau setara dengan 0,20 persen, sehingga mencapai level Rp 16.835 per dolar AS. Kondisi ini berbeda dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di angka Rp 16.802 per dolar AS. Pergerakan awal yang kurang menggembirakan ini mengindikasikan bahwa sentimen pasar masih belum sepenuhnya mendukung penguatan mata uang Garuda.
Pelemahan ini terjadi setelah sehari sebelumnya, rupiah berhasil mencatatkan penguatan yang cukup signifikan. Pada hari Senin, 23 Februari 2026, rupiah berhasil ditutup pada level Rp 16.802 per dolar AS. Penguatan tersebut dipicu oleh sentimen positif yang muncul dari harapan meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu nuklir. Harapan akan adanya solusi diplomatik dalam konflik tersebut memberikan angin segar bagi pasar keuangan, termasuk Indonesia.
Namun, sentimen positif tersebut tampaknya tidak bertahan lama. Pada pembukaan perdagangan hari ini, tekanan kembali menghantui rupiah. Analis pasar menilai bahwa pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Dari sisi internal, data defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Januari 2026 sebesar Rp54,6 triliun menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah. Meskipun defisit ini masih dalam batas yang terkendali, namun tetap memberikan sinyal bahwa pemerintah perlu berhati-hati dalam mengelola keuangan negara.
Dari sisi eksternal, kebijakan tarif baru yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump, menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang dagang yang lebih luas, yang dapat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi global. Ketidakpastian ini mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman (safe haven), seperti dolar AS, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap mata uang tersebut dan menekan nilai tukar rupiah.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, sebelumnya menjelaskan bahwa penguatan rupiah pada hari Senin (23/2/2026) tidak lepas dari harapan pasar terhadap perkembangan positif dalam perundingan nuklir antara AS dan Iran. Ia mencatat bahwa pada penutupan perdagangan sore hari, rupiah berhasil menguat 86 poin, setelah sempat mencapai level tertinggi penguatan sebesar 90 poin, dan berakhir di level Rp 16.802 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.888.
"Pasar terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran pada hari Kamis di Jenewa, meningkatkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda," ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang disampaikan dalam program "Face the Nation" CBS pada hari Minggu (22/2/2026), juga turut memberikan sentimen positif bagi pasar. Araghchi menyatakan bahwa ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik dan bahwa solusi tersebut berada dalam jangkauan mereka. Komentar ini ditafsirkan oleh pasar sebagai sinyal kesediaan Iran untuk berkompromi, yang meredakan kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Namun, di sisi lain, kebijakan tarif baru Presiden Trump menjadi sumber kekhawatiran baru bagi pasar. Trump mengumumkan bahwa ia akan mengenakan tarif 10% pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas. Kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran akan dampaknya terhadap perdagangan global, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
Prospek Rupiah ke Depan
Lalu, bagaimana prospek rupiah ke depan? Para analis memiliki pandangan yang beragam mengenai hal ini. Sebagian analis optimis bahwa rupiah masih memiliki potensi untuk menguat, terutama jika sentimen positif dari perundingan nuklir AS-Iran terus berlanjut. Selain itu, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat juga menjadi faktor pendukung bagi penguatan rupiah.
Namun, sebagian analis lainnya lebih berhati-hati. Mereka mengingatkan bahwa kebijakan tarif baru Presiden Trump dan ketidakpastian global lainnya masih akan menjadi tantangan bagi rupiah. Selain itu, faktor internal seperti defisit APBN dan inflasi juga perlu diperhatikan.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing. BI memiliki cadangan devisa yang cukup besar untuk melakukan intervensi dan menstabilkan nilai tukar rupiah. Selain itu, BI juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan menarik investasi asing ke Indonesia.
Pemerintah juga perlu mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing ekspor dan mengurangi ketergantungan terhadap impor. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan investasi di sektor manufaktur, mengembangkan produk-produk ekspor yang bernilai tambah tinggi, dan memperkuat infrastruktur.
Secara keseluruhan, prospek rupiah ke depan masih akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Investor dan pelaku pasar perlu terus memantau perkembangan terbaru dan mengambil keputusan investasi yang bijak. Stabilitas nilai tukar rupiah sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. Pemerintah dan BI perlu terus bekerja sama untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.





