Krayan Timur, Nunukan, Kalimantan Utara – Sebuah insiden tragis menimpa dunia penerbangan Indonesia, Kamis (19/2/2026), ketika sebuah pesawat pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) milik Pelita Air Service, dengan tipe AT-802, jatuh di wilayah Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kecelakaan ini merenggut nyawa sang pilot, Kapten Hendrik, yang menjadi satu-satunya awak dalam penerbangan tersebut.
Komandan Lanud Anang Busra, Marsma TNI Andreas A. Dhewo, menyampaikan pernyataan resmi terkait kejadian ini. "Pesawat diawaki oleh satu orang pilot, dan berdasarkan hasil evakuasi di lokasi kejadian, pilot ditemukan dalam kondisi meninggal dunia," ujarnya dengan nada duka.
Pesawat dengan nomor registrasi PK-PAA dan nomor penerbangan PAS 7107 itu, tengah menjalankan tugas penting, yaitu mengangkut BBM dari Tarakan menuju Krayan. Penerbangan dimulai dari Bandara Tarakan pada pukul 12.10 WITA, menggunakan runway 22. Kondisi cuaca saat keberangkatan dilaporkan kurang ideal, dengan hujan ringan yang menyelimuti langit Tarakan dan jarak pandang terbatas sekitar 6 kilometer. Awan rendah (cloud base) terpantau broken pada ketinggian 1.400 feet, dengan suhu udara mencapai 23,9 derajat Celsius.
Kronologi Kejadian yang Memilukan
Menurut keterangan saksi mata, beberapa menit setelah lepas landas, pesawat terlihat terbang rendah dan miring ke arah perbukitan yang berada di ujung runway 22. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di antara para saksi yang menyaksikan langsung manuver berbahaya tersebut.
Sekitar pukul 12.25 WITA, saksi mata di sekitar Bandara Yuvai Semaring, Krayan, kembali melihat pesawat yang sama dalam posisi miring dan menurun ke arah belakang bukit yang terletak di ujung pendekatan runway 22. Kondisi ini semakin menguatkan dugaan bahwa pesawat mengalami masalah serius yang menyebabkan hilangnya kendali.
Menyadari potensi bahaya yang mengintai, AirNav unit Long Bawan segera berkoordinasi dengan pihak bandara untuk melakukan pengecekan dan memastikan kondisi pesawat. Namun, upaya tersebut terhambat oleh kondisi cuaca yang semakin memburuk.
Pada pukul 12.27 WITA, pesawat Susi Air yang hendak memasuki wilayah Krayan memutuskan untuk kembali ke Malinau karena cuaca yang tidak mendukung. Keputusan ini diambil demi keselamatan penerbangan dan menghindari risiko yang lebih besar.
Sinyal Darurat dan Upaya Pencarian
Pilot Susi Air melaporkan telah menerima sinyal Emergency Locator Transmitter (ELT) dengan radius sekitar 5 kilometer dari arah final runway 22. Sinyal ini mengindikasikan bahwa pesawat Pelita Air Service mengalami kecelakaan dan membutuhkan pertolongan segera.
Mendapatkan informasi tersebut, tim gabungan yang terdiri dari personel Lanud Anang Busra, Basarnas, kepolisian, dan masyarakat setempat segera bergerak menuju lokasi yang diperkirakan menjadi titik jatuhnya pesawat. Medan yang sulit dan kondisi cuaca yang tidak bersahabat menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencarian dan penyelamatan.
Setelah melakukan pencarian intensif selama lebih dari dua jam, tim gabungan akhirnya berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat pada pukul 14.33 WITA. Sayangnya, pesawat ditemukan dalam kondisi hancur dan pilot, Kapten Hendrik, ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Dugaan Penyebab Kecelakaan dan Investigasi Lanjutan
Meskipun penyebab pasti kecelakaan masih dalam tahap penyelidikan, dugaan sementara mengarah pada faktor cuaca buruk sebagai pemicu utama. Hujan ringan, jarak pandang terbatas, dan awan rendah yang menyelimuti wilayah Krayan pada saat kejadian diduga menjadi faktor yang menyulitkan penerbangan dan menyebabkan pesawat kehilangan kendali.
Namun, Marsma TNI Andreas A. Dhewo menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan investigasi mendalam untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan tersebut. "Kami akan melibatkan tim investigasi dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut dan mencari tahu faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap kecelakaan ini," ujarnya.
Duka Mendalam dan Penghormatan Terakhir
Kejadian ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga Kapten Hendrik, rekan-rekan pilot, dan seluruh karyawan Pelita Air Service. Kapten Hendrik dikenal sebagai pilot yang berpengalaman dan profesional. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi dunia penerbangan Indonesia.
Jenazah Kapten Hendrik telah dievakuasi ke Tarakan untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga. Upacara penghormatan terakhir akan dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya selama bertugas sebagai pilot.
Insiden ini menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya keselamatan penerbangan dan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap faktor cuaca buruk. Diharapkan, hasil investigasi dari KNKT dapat memberikan rekomendasi yang konstruktif untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Kecelakaan pesawat Pelita Air Service ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi dalam pendistribusian BBM di wilayah terpencil seperti Krayan. Pemerintah dan pihak terkait perlu mencari solusi yang lebih aman dan efisien untuk memastikan ketersediaan BBM bagi masyarakat di daerah-daerah terpencil.
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh industri penerbangan Indonesia. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama, dan setiap penerbangan harus dipersiapkan dengan matang, dengan mempertimbangkan segala faktor risiko yang mungkin terjadi. Semoga arwah Kapten Hendrik tenang di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.





